Sabtu, 27 Jul 2019 20:05 WIB

Obat Palsu Tak Ada Habisnya, Korban Dinilai "Pemaaf dan Permisif"

Rosmha Widiyani - detikHealth
Minimnya edukasi dan sifat permisif para korban dimanfaatkan pelaku pemalsuan obat. (Foto ilustrasi: Grandyos Zafna) Minimnya edukasi dan sifat permisif para korban dimanfaatkan pelaku pemalsuan obat. (Foto ilustrasi: Grandyos Zafna)
Jakarta - Obat palsu sebetulnya bukan kasus baru di masyarakat Indonesia. Sayangnya korban masih terus ada, yang terbaru adalah 197 apotek di Jabodetabek dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT JKI.

Menurut pakar hukum, kebijakan publik, dan komunikasi Widyaretna Buenastuti, ada karakter yang mengakibatkan masyarakat terus berisiko menjadi korban obat palsu. Hal ini dimanfaatkan mereka yang tidak bertanggung jawab.

"Masyarakat kita terlalu pemaaf dan permisif, selain itu minim edukasi terkait pemalsuan obat. Sering kali tidak tahu kalau yang dikonsumsi adalah obat palsu. Celah inilah yang digunakan pelaku obat palsu," kata Widya dalam pengukuhan Doktor Hukum di Universitas Pelita Harapan, Sabtu (27/7/2019).


Dalam risetnya, Widya mengatakan masyarakat sebetulnya sudah mencari info jika merasa ada yang aneh pada obat yang dikonsumsi. Sebanyak 58,62 persen ke tempat membeli obat, 8,82 persen ke BPOM, dan 2,94 persen ke kepolisian.

"Jalur pengaduan ini sebetulnya tidak salah. Namun tindak lanjut yang tidak jelas atau telepon yang tidak diangkat-angkat, akhirnya membuat masyarakat memilih melepaskan pengaduan," kata Widya.

Dengan kondisi tersebut, Widya menyarankan masyarakat terus melakukan pengaduan jika menemukan keanehan. Melihat kasus vaksin palsu pada 2016, laporan dari 1 perusahaan pemegang merk produk bisa membongkar kejahatan. Selain itu, edukasi juga harus terus diberikan supaya masyarakat terlindungi dari obat palsu.



Simak Video "Hati-hati! Obat Penyakit Diabetes Paling Banyak yang Dipalsukan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)