Minggu, 28 Jul 2019 15:11 WIB

Obat Generik Jadi Bahan 'Repackage' Obat Palsu, Apa Sih Bahayanya?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Obat palsu yang beredari di 197 apotek merupakan obat generik dan obat kedaluarsa yang mengalami repackage menjadi obat bermerk yang mahal.(Foto: iStock) Obat palsu yang beredari di 197 apotek merupakan obat generik dan obat kedaluarsa yang mengalami repackage menjadi obat bermerk yang mahal.(Foto: iStock)
Jakarta - Sebanyak 197 apotek di Jabodetabek menjadi korban kasus peredaran obat palsu yang dilakukan Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT Jaya Karunia Investindo (JKI). Obat palsu tersebut merupakan obat repackaged, berasal dari obat generik dan juga kadaluwarsa yang dikemas ulang menjadi obat bermerek.

Dalam pernyataan resmi Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM), disebutkan salah satu obat yang banyak dipalsukan adalah obat untuk masalah kardiovaskuler atau jantung.

Dipaparkan oleh dr Eka Ginanjar, Sp.PD-KKV, FINASIM, FACP, obat jantung sendiri kebanyakan sudah ada versi generiknya, terutama yang masuk formulasi. Dan menurutnya, obat generik yang dikemas ulang menjadi bermerek adalah penipuan, karena rata-rata obat bermerek memiliki harga yang lebih tinggi.

dr Eka menyebut alasan pasien lebih memilih membeli obat bermerek ketimbang generik biasanya karena ada ekspektasi lebih. Namun secara fungsi, obat bermerek dan generik tidak berbeda karena zat aktifnya sama.

"Secara kualitas, karena zat aktif sama maka efek sama. Perbedaan antara obat bermerek dan generik tidak berdampak pada efek obat ke pasien. Namun beberapa konsumen memilih bermerek karena misal ukuran obat tidak terlalu besar, butiran tidak terlalu kasar, atau rasa tidak terlalu pahit. Beberapa merasa lebih manjur meski tidak terbukti," katanya melalui pesan singkat kepada detikHealth, Jumat (26/7/2019).



Soal harga, dr Eka menyebut perbedaannya memang jauh. Ia mencontohkan obat jantung clopidogrel, di mana generik dijual sebutir 3-4 ribu rupiah, sementara yang bermerek bisa dijual mencapai 18-20 ribu rupiah.

"Generik ini emang ditekan harganya. Tapi nilai keekonomiannya jadi tidak bagus. Jadinya ada obat esensial yang jarang dipake tapi nggak ada yang memproduksi, misal obat anti aritmia namanya adenosin (ATP)," lanjutnya.

Menyoal kasus obat palsu tersebut, dr Eka berharap ada regulasi untuk pemantauan lebih ketat karena masih banyak orang yang berniat buruk. Atau jika memang memungkinkan, apotek atau tempat penjualan obat yang tidak teregistrasi lebih baik ditutup saja, pungkasnya.



Simak Video "Hati-hati! Obat Penyakit Diabetes Paling Banyak yang Dipalsukan"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)