Selasa, 30 Jul 2019 14:03 WIB

Komparasi 2 Tanaman Penangkal Polusi: Lidah Mertua Vs Trembesi

Kintan Nabila - detikHealth
Trembesi dan lidah mertua banyak diapakai sebagai penangkal polusi (Foto: detikHealth) Trembesi dan lidah mertua banyak diapakai sebagai penangkal polusi (Foto: detikHealth)
Jakarta - Lidah mertua atau Sansiviera tengah banyak diperbincangkan sebagai alternatif penangkal polusi di Jakarta. Ilmuwan menyebut, kemampuannya menangkal polusi masih kalah dibanding pohon trembesi.

Peneliti Ekofisiologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Dr Nuril Hidayat, mengatakan bahwa lidah mertua mampu menyerap senyawa polutan seperti CO2 (karbondioksida), benzena, dan timbal. Selain itu, tanaman ini juga mudah sekali perawatannya.

"Dilihat dari karakternya, lidah mertua itu penyerapan CO2-nya juga tinggi karena memiliki banyak stomata pada daun atas dan bawahnya, zat klorofilnya juga tinggi," katanya saat diwawancarai detikHealth, Selasa (30/7/2019).



Lalu kenapa disebut kalah ampuh dibanding pohon trembesi? Berikut perbandingannya.

1. Kemampuan menyerap polutan
Meski punya kemampuan tinggi untuk menyerap CO2, lidah mertua menurut Nuril lebih cocok digunakan sebagai penangkal polusi dalam ruangan. Untuk polusi luar ruangan, dibutuhkan kapasitas daun yang lebih banyak dan permukaan daun yang lebih luas.

"Tanaman ini salah satunya adalah trembesi," jelas Nuril.

2. Jenis polutan yang diserap
Menurut Nuril, lidah mertua bisa menyerap beberapa senyawa polutan di udara seperti CO2, benzen, dan timbal. Pohon trembesi tidak hanya menangkal polusi udara, tetapi juga meredam polusi suara, angin, debu, dan sebagainya.

"Trembesi termasuk kedalam lima ranking tertinggi dari tanaman penyerap polutan terbanyak," kata Nuril.

Dalam angka, kemampuan pohon trembesi menyerap CO2 adalah 15 umol/m2/s (mikro mol per square meter per second).

3. Kebutuhan lahan
Trembesi, meski menyerap lebih banyak polutan, penanamannya membutuhkan lahan yang relatif lebih luas. Berbeda dengan lidah mertua yang bisa ditanam di mana saja, bahkan di pot untuk dibawa ke dalam rumah. Tentu saja dengan kapasitas penyerapan CO2 yang lebih rendah dibanding trembesi.



Tonton juga 'Harapan Dokter Paru Untuk Polusi Udara di Ibukota':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)