Selasa, 06 Agu 2019 09:18 WIB

Studi: Kipas Angin Tak Aman Digunakan Saat Udara Sedang Kering

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kipas angin tidak aman digunakan saat suhu tinggi dan kelembaban rendah. (Foto: iStock) Kipas angin tidak aman digunakan saat suhu tinggi dan kelembaban rendah. (Foto: iStock)
Jakarta - Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan penggunaan kipas angin tidak aman digunakan saat suhu tinggi dan kelembaban rendah. Peneliti menemukan bahwa ketika indeks panas atau yang mengukur suhu dan kelembaban udara relatif rendah, kipas angin bisa menaikkan tekanan darah, suhu tubuh dan mempercepat detak jantung.

Saat ini, beberapa lembaga kesehatan termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan untuk tidak menggunakan kipas angin dalam panas ekstrim (heatwave) kerena kipas meningkatkan kerja tubuh untuk menurunkan suhunya.

Peneliti dari University of Sydney mengatakan temuannya ini dapat membantu mencegah masyarakat mengalami dehidrasi atau heat stroke selama gelombang panas terjadi.

Dikutip dari Daily Mail, penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine merekrut 12 peserta laki-laki untuk menguji suhu rektal, ketegangan kardiovaskular atau denyut jantung dan tekanan darah serta risiko dehidrasi atau laju keringat seluruh tubuh.

Tim menemukan bahwa dalam kondisi panas dan lembab dengan suhu sekitar 133 Fahrenheit atau 56 celcius, kipas angin membantu menurunkan suhu tubuh inti, detak jantung dan tekanan darah. Tetapi dalam kondisi yang sangat panas dan kering, bahkan dengan indeks panas sekitar 40 derajat celsius, penggunaan kipas angin bisa meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke.


Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menyarankan agar tidak menggunakan kipas angin ketika suhu lebih tinggi dari 35 celsius.

"Hanya ketika suhu udara sangat tinggi dan kelembaban sangat rendah, kipas akan merusak, yang dapat dilihat dalam kondisi kering seperti Phoenix atau Las Vegas di AS, atau Adelaide di Australia Selatan," tutur peneliti dikutip dari Daily Mail.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa otoritas kesehatan di negara yang sedang mengalami gelombang panas untuk mengeluarkan satu pedoman agar tidak terjadi gangguan kesehatan jangka panjang pada penduduk khususnya di Amerika Serikat dan Eropa.

Untuk penelitian di masa depan, tim berencana untuk melihat keefektifan metode pendinginan yang berbeda yang dapat dengan mudah digunakan selama gelombang panas.



Simak Video "Viral! ODGJ Bantu Buka Jalan Ambulans di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)