Selasa, 06 Agu 2019 11:11 WIB

Jangan Anggap Remeh, Putus Cinta Sama Mematikannya dengan Serangan Jantung

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi patah hati. (Foto: Thinkstock) Ilustrasi patah hati. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Patah hati bisa menjadi pengalaman yang sangat menghancurkan di segala usia. Ketika hubungan berakhir setelah bertahun-tahun, beberapa orang mengaku dunianya turut hancur hingga menangis berhari-hari sampai tak mau keluar kamar. Biasanya hal ini akan berlangsung paling lama 1-2 bulan.

Tapi dalam beberapa kasus, putus cinta atau patah hati dianggap sebagai kondisi yang memicu stres dan keadaan traumatis dan cukup hebat untuk menyebabkan kerusakan fisik pada jantung, sebuah sindrom yang disebut kardiomiopati takotsubo.

"Kardiomiopati berarti melemahnya otot jantung, dari pompa jantung," Satjit Bhusri, seorang ahli jantung dari Lenox Hill Hospital di New York, mengutip NBC News.

Kondisi ini juga mendapat julukan sindrom patah hati ketika para peneliti mulai memperhatikan bahwa sering kali stres emosional atau mental, seperti kehilangan orang yang dicintai atau perceraian, menunjukkan gejala penurunan fungsi jantung.


Bhusri percaya ada kemungkinan bahwa sindrom patah hati menyebabkan kematian aktris Debbie Reynolds, ibu aktris Carrie Fisher, yang meninggal sehari setelah Fisher pada akhir 2016 lalu. Dia juga berpikir itu mungkin menjelaskan mengapa pasangan yang telah bersama-sama untuk waktu yang lama akan meninggal dalam beberapa hari 'menyusul' kepergian orang yang dicintainya.

Pada pasien dengan sindrom patah hati, "gejala yang paling umum muncul adalah nyeri dada dan sesak napas," kata Zachary Goldberger, profesor kedokteran dan ahli jantung di School of Medicine University of Washington.

Pasien juga biasanya memiliki elektrokardiogram abnormal, ekokardiogram abnormal, dan peningkatan biomarker dalam darah mereka. Secara keseluruhan, orang-orang dengan sindrom ini sangat mirip dengan serangan jantung.

Sementara ada banyak peneliti tidak tahu tentang mengapa dan bagaimana kondisi ini terjadi, serangan semacam ini lebih sering dipicu karena beberapa jenis stressor seperti operasi, emosional atau tekanan.

Jantung memiliki banyak reseptor yang mengambil perintah langsung dari otak. Sementara pemahaman kita tentang kondisi ini masih berkembang, hipotesis umum adalah bahwa di bawah tekanan atau trauma, sistem saraf simpatik melepaskan banyak neurotransmiter yang sangat mirip dengan adrenalin.

"Hormon-hormon ini mungkin kardiotoksik, dan dapat melukai otot jantung," pungkas Bhusri.



Simak Video "Menepuk Lengan Kiri Dapat Atasi Jantung, Hoax atau Tidak?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)