Selasa, 06 Agu 2019 20:05 WIB

Nobar PSM-Persija Ricuh, Ini Alasan Psikologis Suporter Bola Kerap Bentrok

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kafe di Tebet diserang saat menggelar nobar PSM vs Persija (Foto: Farih Maulana/detikcom) Kafe di Tebet diserang saat menggelar nobar PSM vs Persija (Foto: Farih Maulana/detikcom)
Jakarta - PSM Makassar sukses menjuarai Piala Indonesia usai menumbangkan Persija Jakarta dengan skor 2-0 di leg kedua final (agregat 2-1). Tak lama berselang, bentrokan terjadi di sebuah acara nobar (nonton bareng) pertandingan tersebut di Tebet, Jakarta Selatan.

Bentrokan terjadi di Cafe Komandan di Jl KH Abdullah Syafei, Tebet. Polisi segera datang mengamankan lokasi, setelah sebelumnya terjadi insiden saling lempar batu dan petasan.



Kerusuhan antar pendukung sepak bola dari tim manapun memang sangat sering terjadi. Psikolog dari Cambridge University, Dr Sander van der Linden, dalam satu sesi wawancara mengatakan hal ini terjadi karena sepak bola menjadi salah satu 'identitas' bagi beberapa orang. Bisa jadi karena merasa 'dekat' dengan timnya karena berasal dari negara atau kota yang sama.

Hal ini menjadikan seseorang menjadi terikat secara kuat secara emosional terhadap satu kelompok tertentu. Sehingga ketika dia merasa timnya dilecehkan atau dicemooh, mereka tidak segan-segan membalas.

"Jadi pada dasarnya, kamu bukan membenci tim (sepak bola-red) saya, kamu juga sangat tidak menyukai saya sebagai pribadi," kata Linden dikutip dari The Naked Scientists.



Katakanlah ketika tim sepak bola yang kamu dukung kalah, biasanya kebanyakan dari tim lawan akan mengatakan sesuatu yang kurang baik sehingga memicu perkelahian antar suporternya.

"Itulah cara perkelahian dimulai dan semua orang berpikir sebagai satu unit dan menjadi mudah untuk memulai konflik," pungkasnya.



Simak Video "Apa Sih Quarter Life Crisis?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)