Rabu, 07 Agu 2019 08:00 WIB

Round Up

Heboh RUU PKS Dikaitkan dengan Bahaya Seks Oral

Firdaus Anwar - detikHealth
Perempuan harus berani menolak ajakan seks oral bila UU itu disahkan. (Foto: iStock) Perempuan harus berani menolak ajakan seks oral bila UU itu disahkan. (Foto: iStock)
Jakarta - RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) lagi-lagi bikin heboh. Diberitakan, perempuan harus berani menolak ajakan seks oral bila UU itu disahkan.

Imbauan tersebut terkait sejumlah larangan, termasuk soal hubungan seks yang tidak lazim yang salah satunya adalah seks oral.

"Itu berbahaya karena menjadi pintu masuknya virus dan bakteri. Itu yang harus kita informasikan kepada masyarakat kalau jalur mulut itu bukan jalur yang aman," ucap Ketua Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Hanny Nilasari.



Saat dihubungi detikHealth, dr Hanny menyampaikan klarifikasi. Ia menegaskan tidak ada aturan spesifik tentang seks oral dalam pembahasan RUU PKS.

"Kalau dibaca lagi kalimat press release-nya yang kita tekankan kekerasan seksualnya yang jadi highlight. Kita minta jadi kejahatan seksual," ujarnya.

"Oral seks tidak ada hubungannya dengan undang-undang. Jadi tidak terkait dengan RUU-nya. Cuma memang di salah satu pernyataan saya di press release kekerasan seksual atau kejahatan seksual itu bisa menyebabkan dampak kesehatan, salah satunya infeksi menular seksual," lanjutnya.



Terkait pemaksaan seks oral, seksolog dari Universitas Udayana, Prof dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, menyebut komunikasi sebagai kunci utama. Asal terkomunikasikan dengan baik, maka ketidaknyamanan saat menghadapi ajakan seks oral tidak perlu jadi masalah.

"Ya komunikasi suami-istri. Seks oral kan bukan hanya terhadap suami tetapi juga terhadap istri asal keduanya menikmati," kata Prof Wimpie.



Simak Video "Begini Atasi Pertanyaan "Kapan Nikah?" "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)