Sabtu, 10 Agu 2019 17:18 WIB

Anak Lebih Rentan Akan Polusi, Dokter Sarankan Jaga Status Hidrasi

Michelle Natasya - detikHealth
Anak menjadi kelompok usia yang paling rentan jika terpapar polusi terus menerus. Foto: iStock Anak menjadi kelompok usia yang paling rentan jika terpapar polusi terus menerus. Foto: iStock
Jakarta - Kualitas udara Jakarta yang buruk masih menjadi sorotan. dr. Wahyuni Indawati, Sp. A (K), dokter spesialis anak konsultan respirologi RS Pondok Indah (RSPI), menjelaskan mengapa anak menjadi kelompok usia yang paling rentan jika terpapar polusi terus menerus.

Anak berada dalam periode penting perkembangan sehingga paparan polusi terus menerus akan berakibat buruk bagi perkembangannya. Selain itu, anak juga memiliki kebiasaan menjelajah dan beraktivitas di luar ruangan sehingga tergolong kelompok yang rentan menghirup polusi udara.

"Pastinya anak lebih rentan. Anak-anak itu biasanya lebih banyak aktifitas di luar. kemudian ia masih dalam proses tumbuh kembang termasuk organ parunya dan sistem pernapasan. Jadi, kalau ada gangguan selama proses pertumbuhan itu, ya pasti akan mempengaruhi fungsi organnya, terutama paru di kemudian hari," kata dr Wahyuni saat dihubungi detikHealth, Sabtu (10/8/2019).


Anak-anak juga bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa. Hal ini membuat mereka menghirup lebih banyak polusi dari udara berkualitas buruk.

"Benar, semakin kecil usia anak semakin cepat dia bernapasnya. Karena dia kan punya volume paru masih sedikit sehingga untuk memenuhi kebutuhan oksigen bisa 2 kali lipat orang dewasa. Misalkan orang dewasa ibaratnya napas dalam satu menit 15-20 kali, kalau bayi bisa 40-50 kali per menit. Tergantung usia anak, ya. Semakin besar usia anak frekuensi napasnya juga jadi semakin sedikit karena volume paru semakin besar," terangnya.

Untuk meminimalisir dampak polusi, dokter mengingatkan untuk memastikan status hidrasi anak tercukupi. Hal ini berguna agar mucus atau lendir pada saluran napas anak tidak menjadi kental sehingga dapat menangkap dan mengeluarkan kotoran dari pernapasan.

"Jadi di saluran pernapasan kita ini ada yang namanya mucus dan silia. Mucus ini lendir fungsinya untuk menangkap partikel dan kotoran. Setelah itu kotoran akan disapu oleh silia, rambut-rambut sehingga keluar dari saluran napas kita. 90 persen kandungan dalam mucus adalah air. Kalau misalkan hidrasi kita kurang, mucus itu akan menjadi kental sehingga akan sulit untuk menangkap dan mengeluarkan kotoran yang masuk dalam saluran pernapasan," jelas dokter Wahyuni.

Kebutuhan anak akan cairan biasanya disesuaikan dengan berat badan. Misalkan anak dengan berat 10 kilogram biasanya membutuhkan cairan 1 liter per hari. Di tengah kepungan polusi saat ini, penting untuk memastikan anak tidak kekurangan cairan.



Simak Video "Cara Natasha Rizky Lindungi Keluarga dari Polusi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)