Minggu, 11 Agu 2019 17:38 WIB

Bioplastik Ramah Lingkungan, Tapi Tetap Bukan untuk Bungkus Daging Kurban

Kintan Nabila - detikHealth
Daging kurban yang dibungkus plastik. Foto: Lamhot Aritonang Daging kurban yang dibungkus plastik. Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Bioplastik adalah plastik ramah lingkungan yang dibuat dari bahan alami organik, seperti serat singkong, sawit atau minyak nabati. Plastik ini ramah lingkungan karena hanya memerlukan waktu singkat untuk terurai. Namun faktanya, bioplastik ternyata berbahaya untuk digunakan sebagai pembungkus makanan.

Peneliti Bioplastik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia, Muhammad Ghozali, MT mengatakan bahwa plastik dari singkong sebenarnya bukan jenis plastik yang disarankan untuk bersentuhan langsung dengan makanan, apa alasannya?

Bioplastik rentan terhadap air dan kelembapan karena ia bisa terurai lebih cepat dari plastik pada umumnya. Saat terurai, daging akan menyerap zat-zat berbahaya yang terkandung dalam plastik.

"Itu kan dibungkusnya lama, sore atau malemnya baru dibagiin. Nah plastiknya pasti sudah terdegradasi juga dan zat nya bermigrasi ke daging," katanya pada detikHealth baru-baru ini.


Biarpun disebut ramah lingkungan, komposisi bioplastik ini tidak hanya bahan organik seperti singkong saja namun tetap ditambahkan pelentur dan zat aditifnya.

Untuk pembungkus daging kurban, Ghozali menyarankan agar masyarakat menggunakan plastik berbasis foodgrade seperti jenis LDPE (Low Density Polyethylene) yang memang khusus dibuat untuk makanan.

"Biarpun kurang ramah lingkungan, plastik bening LDPE aman. Tapi kalo misalkan kita mau peduli lingkungan bisa bawa sendiri dari besek atau mangkok," pungkasnya.





Simak Video "Jelang Idul Adha, Hati-hati Bahaya Kolesterol Mengincar!"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)