Rabu, 14 Agu 2019 09:10 WIB

Round-Up

Viral Lewat Foto Jempol Anak Penuh Tinta Spidol, Ini Terapi Sujok

Rosmha Widiyani - detikHealth
Alat yang digunakan untuk terapi sujok. (Foto: Roshma Widiyani/detikHealth) Alat yang digunakan untuk terapi sujok. (Foto: Roshma Widiyani/detikHealth)
Jakarta - Beberapa waktu lalu sempat viral foto seorang anak yang penuh tinta spidol. Orang tua anak diketahui sedang menerapkan terapi sujok untuk menurunkan demam.

Menurut praktisi sujok Heriza Budiman, metode ini sebetulnya sudah ada sejak 1983. Namun, baru Maret 2019 mendapat pelatihan skala internasional. Sujok tidak hanya menggunakan warna tapi juga magnet dan biji-bijian.

"Warna memiliki gelombang tertentu yang diterima tubuh melalui jalur energi. Dengan memberi warna tertentu maka tubuh akan menerima energi, yang digunakan sebagai bentuk terapi di bagian yang sakit. Dalam terapi sujok digunakan warna merah, hijau, dan biru yang punya fungsi berbeda," kata Heriza.


Warna merah digunakan untuk merangsang aliran energi ke dalam tubuh. Biru untuk mendinginkan suhu tubuh, sedangkan hijau untuk stabilisasi biasa digunakan pada yang kerap merasa nyeri. Fungsi lain berasal dari perpaduan warna tersebut.

Terkait gambar yang viral, warna biru tua digunakan untuk menurunkan demam yang sedang dialami anak. Sedangkan jempol merujuk pada sistem korespondensi yang digunakan pada pengobatan komplementer. Dalam sistem tersebut, kepala merujuk pada jari jempol yang berada di tangan dan kaki.

Dengan mewarnai keempat jempol dengan warna biru tua, diharapkan anak mendapat cukup aliran energi ke kepala. Energi itulah yang kemudian diklaim mampu menurunkan suhu tubuh dan menghindarkan anak dari penyakit lain. Dalam foto yang viral, suhu tubuh si anak disebutkan kembali normal dalam waktu singkat.

Terapi sujok bisa diterapkan pada penyakit yang bersifat akut dan kronis. Namun sesuai sifat penyakit, keduanya perlu penanganan berbeda. Penyakit kronis biasany sudah diderita dalam kurun waktu tertentu, misal diabetes, gangguan ginjal, dan tekanan darah tinggi.

"Sujok bisa juga untuk diabetes, ginjal, hipertensi, dan stroke. Tapi, perlu beberapa hari hingga terapi menunjukkan hasilnya. Selain itu harus rutin seperti kunjungan ke dokter. Beda dengan penyakit akut atau yang baru saja terjadi," kata praktisi sujok Heriza.


Untuk terapi warna, biasanya digunakan spidol yang tintanya bisa menempel di kulit. Spidol yang digunakan bisa berbagai merk asal tidak permanen, sehingga bisa dihapus bagi yang ingin membersihkan badan.

Selanjutnya, areal yang diwarnai bergantung pada organ yang diserang. Dengan sistem korespondensi, areal berada di tangan dam kaki yang punya kesamaan dengan organ tubuh. Pewarnaan bergantung efek yang hendak dimunculkan, misal hijau untuk stabilitas dan merah untuk peningkatan energi.

Metode sujok adalah terapi yang bersifat komplementer. Metode ini menjadi pelengkap pengobatan yang diberikan dokter. Sujok dan pengobatan medis tidak bertentangan demi kesehatan dan sembuh dari berbagai penyakit

Menurut Heriza, terapi sujok dengan warna bisa dipelajari siapa saja. Metode ini bisa diterapkan pada diri sendiri atau keluarga saat tubuh terasa tidak enak. Dengan kelebihan ini, sujok bisa membantu tubuh selalu dalam kondisi sehat.



Simak Video "Viral Cerita Karyawan Sakit Leher Menahun Karena Kelamaan Kerja"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)