Sabtu, 17 Agu 2019 05:03 WIB

Round Up

Serba-serbi Pemulihan 4 Polisi yang Terbakar Hidup-hidup Saat Kawal Demo di Cianjur

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Polisi terbakar saat mengamankan demo mahasiswa (Foto: Istimewa) Polisi terbakar saat mengamankan demo mahasiswa (Foto: Istimewa)
Jakarta - Pada Kamis (15/8/2019) empat anggota polisi dilaporkan terbakar hidup-hidup saat mengawal demo mahasiswa di daerah Cianjur, Jawa Barat. Dua orang mengalami luka bakar 30 persen, satu orang 50 persen, dan satu lagi alami 64 persen luka bakar, bernama Aiptu Erwin Yudha.

Dilansir detikcom, Aiptu Erwin telah menjalani koreksi cairan tubuh dan dijadwalkan akan menjalani operasi untuk mengangkat sel-sel jaringan mati. Sehingga, nantinya akan terbentuk jaringan baru pada kulit Aiptu Erwin.

"Ada (operasi), jadi nanti dibersihkan, kemudian sel-sel mati kita bisa lepaskan sehingga akan terbentuk katakanlah jaringan baru," ujar Kepala RS Polri Kramat Jati Brigjen Musyafak.



Luka bakar sendiri diketahui memiliki beberapa tingkatan keparahan. Biasanya tenaga medis akan menilai derajat kedalaman jaringan yang rusak atau luas area tubuh yang terpengaruh.

Stanford Health Care menyebutkan ada empat tingkatan atau derajat pada luka bakar. Pada umumnya, keparahan dilihat dari area permukaan yang terbakar, kedalaman luka bakar, dan seberapa luas area yang terbakar. Selain itu ada juga kategori minor dan mayor.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduan penanganan luka bakarnya juga menyebutkan bahwa tingkat keparahan bisa dipengaruhi oleh usia, sehingga walau luka bakar sekecil apapun bisa fatal pada orang yang berusia lanjut.



WHO juga menyebutkan hipotermia jadi risiko yang kerap terjadi pada korban luka bakar anak-anak karena tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu tubuh. Disarankan juga untuk tidak membersihkan luka bakar menggunakan cairan mengandung alkohol.

Pemulihan pasien luka bakar tergantung dari derajat keparahannya. Semakin tinggi, maka akan semakin lama pemulihaannya, bahkan bisa mencapai bertahun-tahun.

Untuk mempercepat proses pemulihan, pasien disarankan untuk mengonsumsi makanan berkalori tinggi, bisa hingga 6.000 kalori. Hal ini untuk mencegah terjadinya anemia dan malnutrisi yang bisa menghambat prosesnya.

Makanan berkalori tinggi bisa didapatkan dari protein, misalnya daging dan juga tahu, tempe, dan telur, kemudian karbohidrat dari makanan pokok seperti nasi, kentang, dan roti, serta asam lemak omega-3 dari ikan atau buah alpukat, atau bisa juga dari suplemen.



Simak Video "Lucu! Ajak Perangi Narkoba, Polisi Ini Pakai Goyang PPAP "
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)