Rabu, 21 Agu 2019 13:03 WIB

IAC Sayangkan Pengungkapan Status HIV Pelaku 'Seks Gangbang'

Frieda Isyana Putri - detikHealth
HIV sama seperti status kesehatan lainnya, menjadi sebuah rahasia medis. Foto: iStock HIV sama seperti status kesehatan lainnya, menjadi sebuah rahasia medis. Foto: iStock
Jakarta - Kehebohan video 'seks gangbang' dari Garut masih belum usai. Kini dilaporkan bahwa salah satu pelaku positif mengidap human immunodeficiency virus (HIV).

Pria yang merupakan bos salon ini disebut Kasatreskrim Polres Garut AKP Maradona Armin Mappaseng kondisi infeksinya mulai parah sejak lima bulan lalu.

Kabar ini menimbulkan banyak pro dan kontra di kalangan warganet. Banyak yang menyebutkan bahwa seharusnya kondisi medis tersangka termasuk rahasia dan tidak boleh disebarluaskan.

Senada dengan hal itu, Aditya Wardhana dari Indonesia AIDS Coalition juga menyayangkan soal pengungkapan status ini ke publik. Ia menyebutkan status kesehatan tiap pasien merupakan rahasia medis dan dilarang dalam Undang-undang untuk dibuka ke publik tanpa persetujuan pasien.


"(Undang-undang) itu memang tidak membolehkan untuk status kesehatan seseorang (disebarluaskan). Tiap dokter sudah dipercayakan memegang status kesehatan pasien, dia seharusnya tidak boleh memberikan kepada pihak yang lain," kata Adit, sapaannya, saat dihubungi detikHealth melalui sambungan telepon, Rabu (21/8/2019).

Selain itu, ada pula warganet yang berkomentar pengungkapan publik ini bagus untuk meningkatkan kepedulian, mengingat A adalah seorang bos salon yang aktif 'menjajakan' seks, sehingga bisa membuat siapapun yang berhubungan menjadi 'aware'.

Terkait hal itu, Adit menyebut ada sebuah protokol yang telah diatur bernama HIV Partner Notification. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hal ini merupakan pendekatan dengan mencari orang-orang terdekat dengan beberapa langkah tertentu.

Dimulai dengan menanyai pasien yang terdiagnosis HIV soal pasangan seksual mereka, atau pasangan yang menggunakan obat suntik yang sama. Dan jika pasien ini setuju, bisa dilakukan tes HIV pada pasangan-pasangan tersebut dan hasilnya tidak diungkapkan ke satu sama lain.

"Dan itu juga dengan konsen dengan si pasien dengan tujuan besarnya untuk melindungi, bukan untuk mempermalukan, atau tindakan di luar kepantasan. Jadinya kontraproduktif, dengan membuka ke media yang didapat bukan efek perlindungan, malah efek panik. Tanpa sebenarnya tujuan tadi untuk melindungi partner seksualnya si tersangka ini. Akhirnya (HIV) jadi menyeramkan," pungkasnya.







Simak Video "Virus HIV Bisa Dihambat Sama Obat ARV"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)