Jumat, 23 Agu 2019 15:12 WIB

Predator Anak di Mojokerto akan Dikebiri Kimia, Efektifkah?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Predator anak di Mojokerto dikenai hukuman kebiri kimia. (Foto: Enggran Eko Budianto) Predator anak di Mojokerto dikenai hukuman kebiri kimia. (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jakarta - Seorang pria yang diringkus usai ketahuan telah memperkosa 9 anak sejak tahun 2015 dijatuhi hukuman kebiri kimia. Pria asal Mojokerto ini juga harus menjalani hukuman penjara selama 12 tahun.

"Kami masih mencari rumah sakit yang bisa melaksanakan hukuman kebiri kimia. Karena RSUD Soekandar dan RA Basuni di Mojokerto belum pernah melakukan itu," kata Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto Nugroho Wisnu, seperti dikutip dari detikcom, Jumat (23/8/2019).

Kebiri kimia atau chemical castatration dilakukan dengan menyuntikkan obat yang berfungsi menghambat pembentukan hormon testosteron. Ketika kadar hormon ini berkurang, maka libido atau gairah seks juga akan menurun.

Sayangnya, kebiri kimia ini tidak memberikan efek permanen seperti kebiri biasa dan menimbulkan berbagai efek samping seperti tulang keropos. Namun apakah langkah ini akan efektif dalam memberantas pelaku kekerasan seksual?


Beberapa waktu lalu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait pernah mengatakan bahwa hukuman ini sudah diterapkan di beberapa negara. Ia mengambil kesimpulan bahwa kebiri bisa jadi hukuman efektif untuk menurunkan angka kekerasan seksual pada anak berdasarkan pengalaman negara-negara tersebut.

"Ini sudah berlaku di beberapa negara yang teruji bahwa terjadi penurunan predator-predator kejahatan seksual. Korea Selatan, sebagian negara-negara bagian Amerika, Polandia, Jerman, bahkan Inggris itu pakai chip biar ke mana pun terlihat. Saya kira kalau itu dilakukan di Indonesia akan terjadi juga (penurunan angka kejahatan -red)," kata Arist.

Dalam sebuah studi dari Korea, disebutkan dari 38 pasien yang menjalani kebiri kimia melaporkan adanya penurunan dalam frekuensi dan intensitas dorongan seksual, frekuensi masturbasi dan fantasi seksual, demikian dilaporkan Medical Daily.

Baik kimia maupun konvensional, metode kebiri biasanya dilakukan ketika sudah tidak ada lagi terapi yang mempan untuk si pelaku dan diharapkan tidak akan ada lagi kasus yang sama dari orang yang sama ke depannya.



Simak Video "Blak-blakan IDI: Kebiri, Hukuman Atau Rehabilitasi?"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)