Jumat, 23 Agu 2019 22:06 WIB

Dokter: Anti Bisa di Indonesia Hanya untuk 3 Jenis Ular

Firdaus Anwar - detikHealth
Ular weling atau Bungarus candidus alias Malayan Banded Krait. (Dok Instagram Sioux Indonesia) Ular weling atau Bungarus candidus alias Malayan Banded Krait. (Dok Instagram Sioux Indonesia)
Jakarta - Seorang satpam perumahan Gading Serpong bernama Iskandar dilaporkan tewas usai digigit oleh ular berbisa jenis Weling (Bungarus candidus) pada Selasa (23/8) lalu. Dirinya sempat diberi antitoksin namun nyawanya tidak tertolong.

Menurut keterangan polisi usai digigit Iskandar tidak segera mencari bantuan medis. Sampai akhirnya efek bisa ular baru dirasakan setelah beberapa jam kemudian.



"Jadi menurut analisa saya, korban ini tidak paham kalau ular itu berbisa," kata Kapolsek Kelapa Dua Kompol Effendi saat dihubungi detikcom, Jumat (23/8/2019).

dr Wisnu Pramudito D. Pusponegoro, SpB, dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menjelaskan di Indonesia serum yang umum digunakan adalah anti bisa ular (ABU) produksi PT Bio Farma. Serum tersebut efektif setidaknya hanya untuk tiga jenis ular yaitu kobra (Naja sputatrix), ular belang (Bungarus fasciatus), dan ular tanah (Agkistrodon rhodostoma).

"Di kita tidak ada antidote bisa yang spesifik sesuai jenis ularnya. Cuma dibuat dari serum ular kobra sama tanah, jadi kalau ada gigitan ular eksotis jenis yang lain mungkin tidak kena," kata dr Wisnu pada detikHealth.

Iskandar sendiri dianggap telat mendapatkan bantuan medis. Effendi menyayangkan warga sekitar tidak lekas mencari pertolongan pertama untuk korban.



Simak Video "Ular Sanca Ini Direhabilitas karena Kecanduan Narkoba"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)