Minggu, 25 Agu 2019 10:41 WIB

Kemenkes RI Dorong Pengembangan Riset Obat Herba

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Ketiga siswa-siswi SMAN 2 Palangkaraya penemu obat kanker dari tanaman bajakah. Foto: Sarah Oktaviani Alam/detikHealth Ketiga siswa-siswi SMAN 2 Palangkaraya penemu obat kanker dari tanaman bajakah. Foto: Sarah Oktaviani Alam/detikHealth
Jakarta - Euforia masyarakat terhadap penemuan bajakah yang diklaim sebagai obat kanker sempat tinggi beberapa waktu lalu. Selama ini ternyata penelitian serupa sudah ada banyak di Indonesia.

Menurut dr Siswanto Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan, penelitian semacam itu nantinya akan dikelola dalam bentuk kolaboratif dalam Jejaring Riset Klinis Indonesia. Tujuannya agar penelitian bisa berlanjut ke tahap uji klinis.

"Nanti tindak lanjutnya kita keliling ke perguruan tinggi mencari kandidat-kandidat yang bisa dilakukan (kolaborasi dalam jejaring). Hilirisasi, supaya bisa dikawal menjadi tahap uji klinis, supaya betul (hasilnya)," tutur Siswanto pada Jumat (23/8).


Di Indonesia, belum banyak ada obat yang dikembangkan sendiri dari awal. Selama ini Indonesia lebih berkecimpung sebagai tempat uji klinik dari pabrik farmasi di luar negeri. Namun, jika bicara soal fitofarmaka (obat herbal yang sudah diuji klinik dan pra-klinik), sudah banyak ada dibuat, salah satunya oleh perusahaan Dexa Medica.

Soal bajakah, Siswanto mengatakan fungsinya sebagai obat kanker harus dibuktikan dengan melalui tahap uji yang panjang. Setelah menemukan bahan aktifnya, kemudian diisolasi dan dilakukan uji in-vitro pada sel lain serta uji pada hewan.

"Kalau sudah terbukti lagi, baru dibikin skala industri oleh pabrik. Karena bahan uji coba pada manusia kan harus skala industri," pungkasnya.






Simak Video "Payudara Prostetik untuk Pengidap Kanker Payudara"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)