Jumat, 30 Agu 2019 14:58 WIB

Nekat Eksekusi Kebiri Kimia, Dokter Bisa Dipecat Komisi Etik

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi kebiri kimia. Foto: thinkstock Ilustrasi kebiri kimia. Foto: thinkstock
Jakarta -
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak mengeksekusi hukuman kebiri kimia yang diberikan pada terpidana kasus predator anak Muhammad Aris di Mojokerto. Hal ini dikarenakan melanggar kode etik dokter.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr Daeng Muhammad Faqih menegaskan, baik dokter maupun tenaga medis lain tidak diperkenankan untuk mengeksekusi kebiri kimia apabila dalam bentuk hukuman. Mereka bisa terancam mendapatkan sanksi.

"Bisa dipecat dari dokter, karena dianggap melanggar perikemanusiaan. Itu berat tuh sanksi etik. Kawan-kawan (dokter dan tenaga medis lain -red) harus tau tuh," ujarnya saat ditemui detikHealth di kantor pusat PB IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (29/8/2019).



Infografis fakta kebiri di dunia. Infografis fakta kebiri di dunia. Foto: infografis detikHealth


Namun, jika kebiri kimia dilakukan dalam bentuk rehabilitasi, dr Daeng mengatakan bahwa IDI akan membantu dalam pelaksanannya. Dalam rehabilitasi, pelaku akan dikontrol faktor-faktor apa saja yang dapat mendorongnya melakukan kejahatan seksual.

Jika karena tingkat hormon atau libido yang tinggi, maka kadar hormonnya yang akan diperbaiki. Apabila karena ada gangguan kejiwaan, maka kesehatan jiwanya yang terus diobati.

"Kalau rehabilitasi, IDI siap membantu. PP-nya (peraturan pemerintah) kan lagi disusun, harapan kita diarahkan ke rehabilitasi, betul-betul bisa turun membantu," jelas dr Daeng.

Dengan rehabilitasi, pelaku diperbolehkan berbaur ke masyarakat jika memang sudah benar-benar normal dalam berbagai aspek. Berbeda dengan hukuman, pelaku akan dilepas begitu masa hukumannya selesai, baik sudah normal ataupun belum.



Simak Video "Blak-blakan IDI: Kebiri, Hukuman Atau Rehabilitasi?"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)