Jumat, 30 Agu 2019 17:20 WIB

Psikolog Sebut Viralnya Berita Pemerkosaan Bocah Bak Pisau Bermata Dua

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi pemerkosaan anak. Foto: Luthfy Syahban Ilustrasi pemerkosaan anak. Foto: Luthfy Syahban
Jakarta - Beberapa waktu lalu, beredar berita dan video seorang bocah yang diduga mengalami pemerkosaan oleh orang dewasa di daerah Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Pihak kepolisian meminta masyarakat untuk tidak menyebarluaskan berita dan video tersebut karena akan mempengaruhi keadaan psikologis korban dan keluarganya.

Menurut pakar psikologi, Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psikolog, beredarnya berita terkait kasus tersebut memiliki dua sisi yang berbeda. Satu sisi, jika korban membacanya maka akan berdampak pada kondisi psikologis atau trauma anak. Namun, sisi lainnya, berita ini bisa memberi informasi agar orang tua lebih waspada terhadap anak-anaknya.

"Viralnya berita seperti ini bagai pisau bermata dua. Si anak harus dijauhkan agar tidak melihat berita yang beredar itu, agar mencegah terjadinya gangguan psikisnya. Tetapi, berita ini memang ditujukan untuk masyarakat yang khususnya orangtua, agar bisa lebih waspada, lebih menjaga anaknya maupun lingkungan di sekitarnya," jelas Anna pada detikHealth, Jumat (30/8/2019).



Selain itu, berita seperti ini juga bisa menimbulkan dampak pada orang dewasa yang mungkin pernah mengalami menjadi korban pelecehan seksual. Hal ini dapat terjadi jika orang tersebut belum benar-benar sembuh dari traumanya.

"Ya memang trauma itu bisa sembuh, tetapi jika belum benar-benar sembuh, orang dewasa sekalipun bisa mengalami trauma lagi. Jadi saran saya untuk orang yang ada di sekitar korban maupun orang yang dulu pernah mengalami hal yang sama, tolong jauhkan berita maupun video semacam itu. Karena dapat menimbulkan trauma berkepanjangan," ujarnya.

Tidak hanya yang pernah mengalaminya, teman ataupun keluarganya juga bisa mengalami trauma. Itu karena mereka mengetahui dengan sangat jelas kejadiannya yang menimpa orang terdekatnya itu.

Anna menyarankan, terutama orangtua agar lebih menjaga anak dan lingkungannya. Jangan sampai hal ini terjadi lagi dan menimbulkan lebih banyak korban yang serupa. Jika anak atau korban tersebut terlanjur membaca atau melihat beritanya, beri pengertian kalau ini bukan untuk menyebar untuk memojokkan atau mengumbar kasusnya, tetapi juga sebagai pembelajaran.

"Untuk anak yang menjadi korban, orangtua harus menetralisir keadaan anaknya. Jelaskan kalau berita yang menyebar itu bukan untuk menyebar aib kamu (korban). Tetapi untuk mencegah hal itu terjadi lagi pada orang lain. Jangan lupa, setelah anak itu mengetahui beritanya, segera tenangkan lagi, ajak untuk mengatur napas agar kembali tenang," imbuhnya.



Simak Video "Kocak! Viral Facial 'Peletak Peletok' yang Bikin Pasien Histeris"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/wdw)