Jumat, 30 Agu 2019 18:35 WIB

Bisa Pengaruhi Kejiwaan, Pertimbangkan Ini Sebelum Viralkan Kasus Perkosaan

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Jangan sembarang sebar foto atau video kasus perkosaan. (Foto: Atsushi Tomura/Getty Images) Jangan sembarang sebar foto atau video kasus perkosaan. (Foto: Atsushi Tomura/Getty Images)
Jakarta - Sebuah tulisan dari Facebook tentang modus pemerkosaan yang terjadi di kawasan Gunung Putri mendadak viral. Dalam unggahan tersebut tertulis perasaan saksi soal pelaku yang tega memperkosa bocah 10 tahun.

Diceritakan, seorang pria dewasa menghipnotis korban lalu memperkosanya dan meninggalkan korban di sebuah rumah kosong dalam kondisi terluka.

Mengucapkan rasa empati atau ucapan belasungkawa tentang korban pemerkosaan harus memperhatikan beberapa aspek. Menurut psikolog klinis anak di Personal Growth Kantiana Taslim, tulisan tersebut hendaknya dituliskan tujuannya baik yakni memperingatkan masyarakat agar peduli dengan pemerkosaan anak.

"Disampaikan kalau misal selama postingan tersebut ada kalimat-kalimat yang mungkin enggak menyenangkan, bisa minta maaf. Juga disampaikan cerita yang terjadi, tidak sedetail itu," ujarnya pada Jumat (30/8).


Tak lupa Kantiana mengingatkan agar tulisan tentang pemerkosaan sebaiknya dicantumkan pesan moral bagi orang tua supaya mencegah kejadian yang sama terjadi lagi.

Memviralkan peristiwa pemerkosaan bisa berimbas pada kesehatan mental korban. Sebab, bisa jadi saat melihat berita tersebut, korban masih dalam kondisi yang belum sepenuhnya stabil secara psikologis. Ditakutkan, stres atau trauma bisa kembali lagi.

"Tidak hanya sekadar menceritakan secara detail atau keresahan (penulis), tapi ditutup dengan hal-hal yang positif atau membangkitkan awareness dari masyarakat," tutur Kantiana.



Simak Video "Kocak! Viral Facial 'Peletak Peletok' yang Bikin Pasien Histeris"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)