Jumat, 13 Sep 2019 13:40 WIB

Distribusi Tenaga Medis Belum Rata, Masih Ada Puskesmas Kurang Dokter Gigi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi dokter gigi. Foto: Thinkstock Ilustrasi dokter gigi. Foto: Thinkstock
Jakarta - Kesehatan gigi dan mulut masih menjadi persoalan besar di masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 disebut 56,7 persen penduduk mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut dan hanya 10,2 persen di antaranya yang mendapat pelayanan dari tenaga medis.

Bukan tak mungkin kurangnya kunjungan masyarakat ke dokter gigi karena memang mereka tak memiliki spesialis di daerahnya. Sekjen Kementerian Kesehatan RI, Oscar Primadi, menyebut distribusi tenaga kesehatan, khususnya dokter gigi, belum sepenuhnya merata. Bahkan di beberapa puskesmas masih ada yang tak punya dokter gigi.

"Ya kita memang dari sisi distribusi berharap adanya pemerataan walaupun memang belum maksimal. Ada beberapa puskesmas yang masih belum punya (dokter gigi)," kata Oscar saat ditemui detikcom pada agenda Indonesia Dental Exhibition and Conference, Jumat (13/9/2019).


Padahal, data dari Konsil Kedokteran Gigi Indonesia tahun 2005 sampai 2011 mencatat ada 33.532 jumlah dokter gigi yang terdiri dari 29.939 dokter gigi umum dan 3.584 dokter gigi spesialis. "Tapi sekali lagi persoalannya bisa kita hadapi dengan tentunya melakukan upaya-upaya kolaborasi dari pemerintah daerah untuk dapat memeratakan ini," papar Oscar.

Kementerian Kesehatan telah mendorong upaya pemerataan dokter gigi di wilayah Indonesia Timur, mengatur penyebaran dokter gigi di daerah terpencil, sampai pemberian beasiswa dokter gigi. Hanya saja, Oscar mengakui ada juga keterbatasan pada peralatan dokter gigi yang membuat pelayanan belum maksimal.

"Tentunya upaya yang bukan sekedar mengobati tapi bagaimana mencegah seperti UKDS-nya, promotifnya, bisa dilakukan oleh teman-teman dokter gigi," pungkasnya.



Simak Video "Ini Dia Rapor Merah Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)