Senin, 16 Sep 2019 07:30 WIB

Round-Up

Glaukoma dan Fungsi Penutup Mata Thareq Habibie

Rosmha Widiyani - detikHealth
Thareq menggunakan penutup mata akibat glaukoma. (Foto: Lisye Sri Rahayu/detikcom) Thareq menggunakan penutup mata akibat glaukoma. (Foto: Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Jakarta - Thareq Habibie akhirnya menjelaskan seputar penutup mata kanannya yang bikin penasaran publik. Thareq mengalami gangguan mata sejak 3,5 tahun lalu dan bisa melihat lebih baik dengan menutup salah satunya.

"Sekarang once and for all, saya jelasin di depan TV bahwa saya itu kan sebetulnya diabetes. Diabetes itu mengakibatkan saya jadi glaukoma. Glaukoma adalah di mana di mata terjadi perubahan tekanan. Kalau tekanannya membesar, ini mata kiri saya masih bagus, tekanannya kira-kira 13. Mata sini udah 25," kata Thareq dikutip dari detikcom.

Penutup mata yang digunakan Thareq sekilas mirip seperti bajak laut, dengan warnanya yang hitam dan pengikat kepala. Hal ini menjadikan penutup mata Thareq berbeda dengan yang digunakan pasien usai operasi.

"Untuk kasus pasien yang memakai penutup mata seperti bajak laut, umumnya dipakai dalam jangka waktu lama. Penggunaannya sampai gangguan matanya bisa diatasi sehingga tampak seperti keadaan bola mata orang pada umumnya," kata dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya, dr Florence Meilani Manurung, SpM.

Untuk penutup mata usai bedah, misal operasi katarak, biasanya hanya digunakan selama beberapa hari. Penggunaan penutup mata bertujuan melindungi mata dari debu atau kebiasaan pasien mengucek mata. Penutup mata yang digunakan biasanya melengkung keluar atau cembung.


Penutup mata seperti yang digunakan Thareq Habibie bukan barang asing dalam dunia medis. Beberapa kondisi gangguan penglihatan memang menyaratkan penggunaan penutup mata, atau biasa disebut eye patch.

"Bentuk eye patch macam-macam. Bisa seperti plester yang menutup mata atau kain atau kulit dengan tali atau sling. Pak Thareq sepertinya pakai yang berbahan kain atau kulit," kata dokter ahli kesehatan mata dr Gitalisa Andayani, SpM(K), dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).

Berikut penjelasan seputar fungsi dan kondisi yang menyaratkan penggunaan penutup mata.

1. Pada anak dengan mata malas

Pada kondisi yang disebut ambliopia atau lazy eyes, eye patching menjadi terapi selama 2-3 jam per hari. Harapannya, fungsi penglihatan mata yang malas bisa lebih baik dan tak buram lagi.

2. Mengalami kelumpuhan otot mata

Kelumpuhan otot mata biasa dialami pasien usai serangan stroke. Akibatnya mata jadi bergeser atau juling, penglihatan dobel/ganda, dan berbayang.

3. Mengalami cedera

Kondisi ini biasa terjadi pada mata usai operasi. Mata perlu ditutup biasanya dengan perban atau plester supaya terlindung dari debu dan air.

4. Cacat permanen

Contoh kondisi cacat permanen adalah mata bergeser/juling, mengecil, kornea keruh karena berbagai kelainan berat. Kondisi ini mengakibatan penampilan terlihat kurang baik.


Selain penutup, Thareq sempat menyinggung tekanan mata kanan yang mencapai 25. Tekanan dalam mata terkait dengan aliran cairan yang disebut aqueous humour. Terhambatnya aliran cairan mengakibatkan penimbunan dan peningkatan tekanan tinggi dalam mata.

"Glaukoma umumnya ditandai dengan tekanan bola mata lebih dari 21 mmHg. Tekanan mata tentu tak boleh tinggi. Bila dibiarkan akan menyebabkan kerusakan sel ganglion retina," kata dr Gitalisa.

Menurut dr Gitalisa, peningkatan tekanan memang bisa mengakibatkan kebutaan. Namun risiko tersebut bisa diantisipasi dengan pengendalian secepatnya, sehingga tak perlu berakhir dengan hilangnya kemampuan melihat.



Tonton juga 'Terungkap, Alasan Thareq Habibie Pakai Penutup Mata':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Hati-hati! Dampak Bahaya Tidur Terus Saat Libur Kerja"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)