Rabu, 18 Sep 2019 15:39 WIB

Kemenkes Sarankan Dakron untuk Tangkal Kabut Asap, Bahan Pengisi Bantal?

Khadijah Nur Azizah, Michelle Natasya - detikHealth
Aksi peduli kabut asap (Foto: Grandyos Zafna) Aksi peduli kabut asap (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Berbagai cara dilakukan untuk menangkal dampak kesehatan kabut asap dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Salah satunya dengan memasang dakron basah sesuai anjuran Kementerian Kesehatan RI.

Disebutkan, memasang dakron basah di saluran ventilasi dan celah udara bisa menyaring udara bersih. Teknik yang sama juga sempat diterapkan saat terjadi kebakaran hutan pada 2015.

"Kala itu yang kita gunakan ruang kelas dan seluruh ventilasi atau lubang angin ditutup pakai dakron yang secara periodik dibasahi dengan semprotan air dan dipasangi exhaust fan untuk menyedot ruangan, ternyata mampu menjebak partikel debu yang ada di asap agar tidak bisa masuk," tutur Sekertaris Direktorat Jendrak Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr Ahmad Yurianto, kepada detikcom, Rabu (18/9/2019).

Kala itu, pengimplementasian sudah dilakukan di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. dr Yuri, sapaannya, berharap agar penggunaan dakron basah juga bisa dilakukan di tingkat perumahan.

"Sekarang teknologi itu kita harap di implementasikan di perumahan. jadi kalau memungkinkan seluruh ruangan, tapi kalau memang tidak bisa ya satu kamar lah paling tidak. Sehingga penduduk bisa terkurangi paparannya jadi nggak perlu ngungsi jauh-jauh," tutupnya.



Kepada detikcom, dr Yuri menunjukkan bahan dakron yang dimaksud. Dan ternyata benar, dakron yang dimaksud tak lain adalah bahan yang sehari-hari dikenal sebagai pengisi bantal untuk tidur.

Peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia Dr Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSC mengomentari anjuran memasang dakron. Ia mempertanyakan penerapan di lapangan.

"Dakron itu kan bahan kayak kapas untuk isi bantal atau kasur ya. Kalau untuk nutupi lubang ventilasi ruang kelas, perlu berapa banyak ya per kelasnya," katanya.

Saat ditanya mengenai efektivitas material dakron dalam menyaring asap, menurutnya masalah utama bukan berada pada efektif atau tidak bahan tersebut. Tetapi bisa dilakukan atau tidak pemasangan material-material tersebut di situasi krisis seperti saat ini.

"Maksud saya, kita bicara konsep apa solusi riil di lapangan? Kalau kita-kita di Jakarta mah teorinya banyak banget dan canggih-canggih, tapi apa iya bisa dilakukan dan cocok di situasi krisis di lokasi terdampak?," tanya Budi.



Simak Video "Ngobs Kuy! Duka Kabut Asap"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)