Kamis, 19 Sep 2019 09:00 WIB

Round Up

Dakron 'Isi Bantal', Penangkal Kabut Asap di Daerah Terpapar Karhutla

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Dakron basah dijadikan alternatif penyaring udara. (Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S) Dakron basah dijadikan alternatif penyaring udara. (Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jakarta - Kementerian Kesehatan belum lama ini mengeluarkan anjuran untuk memasang dakron basah sebagai solusi untuk menyaring kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah Kalimantan dan Sumatera.

Pemasangan dakron basah dilakukan pada celah-celah udara atau ventilasi untuk menyaring udara yang masuk sehingga kualitas udara di dalam ruangan jauh lebih baik. Sekertaris Direktorat Jendrak Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr Ahmad Yurianto, mengatakan cara ini telah dilakukan sebelumnya pada tahun 2015 silam.

"Sekarang teknologi itu kita harap di implementasikan di perumahan. jadi kalau memungkinkan seluruh ruangan, tapi kalau memang tidak bisa ya satu kamar lah paling tidak. Sehingga penduduk bisa terkurangi paparannya jadi nggak perlu ngungsi jauh-jauh," katanya saat dihubungi detikcom, Rabu (18/9/2019).

dr Yuri, sapaannya, mengatakan dakron yang dimaksud adalah bahan pengisi bantal yang sehari-harinya digunakan untuk tidur. "Dakron yang di pasar itu yang isian bantal bukan kapuknya. Bukan murah lagi, banyak. tapi tidak semua warga itu tahu kain dakron itu apa," lanjutnya lagi.

Dibandingkan membeli air purifier yang harganya lebih mahal, ia berharap agar penggunaan dakron basah dijadikan alternatif penyaring udara sebagai cara untuk melindungi kesehatan, khususnya paru-paru.


Diwawancarai terpisah, peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia Dr Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSC sedikit mengomentari anjuran dari Kemenkes tersebut. Ia mengatakan akan sulit dilakukan pemasangan di saat-saat kritis seperti sekarang.

"Maksud saya, kita bicara konsep apa solusi riil di lapangan? Kalau kita-kita di Jakarta mah teorinya banyak banget dan canggih-canggih, tapi apa iya bisa dilakukan dan cocok di situasi krisis di lokasi terdampak?," sebut Budi.

Karenanya, ia memberikan beberapa saran yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan kabut asap.

1. Evakuasi ke tempat yang tidak terkena asap. Hal ini bisa dengan membuat tempat yang relatif tidak terkena asap. Misalnya: ruang ber AC tanpa ventilasi. Baik juga kalau ditambah dengan kipas angin atau penjernih udara.

2. Kalau terpaksa harus beraktivitas ke luar, gunakan masker standar N95 (standar K3 & CDC). Jangan gunakan masker bedah atau sejenisnya.

3. Kurangi aktivitas yang menjadikan napas memburu. Seperti olahraga, berlarian, sepedaan, dan lain-lain. Karena semakin napas memburu, semakin banyak asap terhirup dan masuk dalam paru-paru.



Simak Video "Ngobs Kuy! Duka Kabut Asap"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)