Jumat, 20 Sep 2019 17:37 WIB

Penjelasan Dokter Paru Soal Meninggalnya Bayi Usia 3 Hari di Pekanbaru

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengepung Sumatera dan Kalimantan. Foto: Ferdi Almunanda/detikcom Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengepung Sumatera dan Kalimantan. Foto: Ferdi Almunanda/detikcom
Jakarta - Seorang bayi berusia 3 hari di Pekanbaru meninggal dunia yang diduga karena imbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerahnya. Orangtua dari bayi tersebut menceritakan, sebelum meninggal anaknya sempat mengalami demam tinggi dan batuk-batuk.

Menanggapi hal tersebut, spesialis paru dr Anna Roliyazani, Mbiomed, SpP, mengatakan kabut asap hanya faktor yang melemahkan daya tahan tubuh sang bayi sehingga ia menjadi rentan terkena penyakit. Sehingga secara langsung, kabut asap bukan menjadi penyebab utama kematian bayi.

"Kabut asap bukan yang menyebabkan dia langsung meninggal. Itu hanya faktor yang melemahkan daya tahan tubuh," katanya saat dijumpai detikcom, Jumat (20/9/2019).

"Dengan asap, faktor kerentanan paru pada penyakit menjadi lebih besar dan menyebabkan mudah terinfeksi. Itu yang bisa menyerang paru karena daya tahan tubuhnya menurun," sambungnya.


Untuk kerentanan pada bayi, semua tergantung dari kepekatan asap, seberapa cepat daya tahan tubuh anak menurun dan seberapa cepat pertolongan yang diberikan pada timbul gejala pada bayi. Faktor lain yang juga menjadi pemicu yakni kandungan dari kabut asap itu sendiri. "Kabut asap punya kandungan juga seperti CO2, SO2 yang menyebabkan racun, toksik inhalasi," sebutnya.

dr Anna menyebut bisa saja awalnya bayi sangat sehat lalu terpapar kabut asap langsung selama berjam-jam sehingga membuat daya tahan tubuhnya drop drastis yang membuat kuman dan infeksi masuk ke tubuh bayi malang itu.

"Boleh jadi awalnya nggak ada kuman yang masuk. tapi kabut asapnya sendiri membuat peradangan paru yang terus menerus dan saluran napasnya menjadi hipersensitif dan menyempit sehingga membuat napasnya susah baru di situ akan banyak kuman yang bisa masuk," pungkasnya.



Simak Video "Ngobs Kuy! Duka Kabut Asap"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)