Senin, 23 Sep 2019 19:08 WIB

Wamena Rusuh, Ini Alasan Psikologis Kenapa Hoax Gampang Menyulut Emosi

Firdaus Anwar - detikHealth
Hoax disebut jadi penyebab kerusuhan di Wamena. (Foto: iStock) Hoax disebut jadi penyebab kerusuhan di Wamena. (Foto: iStock)
Jakarta - Kerucuhan yang terjadi di Wamena, Papua, disebut polisi diduga berawal dari informasi hoax bernada rasis. Hoax tersebut disebar oleh akun-akun media sosial (medsos) yang pemiliknya kini tengah ditelusuri polisi.

"Yang mereka kembangkan isu yang sensitif di sana tantang rasis. Penyebarnya, akun-akun medsosnya yang menyebarkan sedang didalami juga oleh Direktorat Siber Bareskrim. Info yang saya dapat itu," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (23/9/2019).


Mengapa kabar hoax tampak cenderung mudah menyulut emosi? Menurut studi yang dipublikasi di jurnal Science 2018 jawabannya sederhana karena kabar hoax atau ujaran kebencian memang umum dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian mengunggah sifat alami manusia.

"Ini berarti kebijakan penyaringan informasi keliru juga harus menekankan intervensi perilaku seperti dengan pelabelan atau insentif, daripada harus membatasi dengan bot. Memahami bagaimana berita palsu menyebar jadi langkah pertama untuk menanggulanginya," tulis peneliti.

Terkait hal tersebut istilah croc brain atau crocodile brain dianggap jadi sistem kerja otak yang bertanggung jawab atas mudahnya penyebaran hoax. Dokter bedah saraf Roslan Yusni Hasan dari Tahir Neuroscience Center RS Mayapada mengatakan, croc brain ini bekerja secara emosional bukan rasional.

Croc brain atau otak buaya adalah bagian yang lebih dulu berkembang dibanding neocortex pada manusia. Neocortex memungkinkan manusia menggunakan akal untuk bertindak, bukan sekadar insting untuk melindungi diri atau merasa nyaman.



Simak Video "Melihat Satu-satunya Layanan Kesehatan di Pedalaman Papua Barat"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)