Rabu, 25 Sep 2019 16:15 WIB

Berisiko Tinggi, Berikut Pertimbangan Dokter Sebelum Tangani Pendarahan Otak

Rosmha Widiyani - detikHealth
Faisal Amir dari Universitas Al-Azhar dikabarkan mengalami perdarahan otak. (Foto: thinkstock) Faisal Amir dari Universitas Al-Azhar dikabarkan mengalami perdarahan otak. (Foto: thinkstock)
Jakarta - Mahasiswa dari Universitas Al-Azhar, Faisal Amir dikabarkan mengalami perdarahan otak setelah aksi unjuk rasa mahasiswa kemarin, Selasa (24/9/2019). Pantauan detikcom, kini Faisal tengah dirawat di RS Pelni.

Menurut dokter ahli saraf Dr dr Yetty Ramli, SpS(K), dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), ada 3 hal yang mempengaruhi penanganan pada pasien perdarahan otak.

"Yang pasti kita butuh brain imagining untuk mengetahui bagaimana cederanya. Dari hasi CT-Scan itulah bisa dinilai perlu operasi atau bisa dengan cara konservatif tanpa bedah," kata dr Yetty pada detikcom.


Berikut penjelasan 3 hal yang dipertimbangkan dokter, sebelum menangani perdarahan otak.

1. Penilaian kesadaran

Menurut dr Yetty, dokter biasanya melakukan penilaian kesadaran dengan Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian ini untuk mengetahui respon mata, suara, dan gerakan tubuh dengan masing-masing memiliki skor maksimal 5.

2. Luasnya perdarahan

Dokter mengetahui luasnya perdarahan dengan menggunakan hasil CT-Scan. Bila perdarahan sudah luas, dokter biasanya menerapkan operasi untuk membersihkan darah dalam otak. Tindakan ini juga untuk menurunan tekanan intrakranial.

3. Letak perdarahan

Sama seperti luas, letak perdarahan juga diketahui lewat hasil CT-Scan. Dokter bisa mempertimbangkan tindakan konservatif, bila perdarahan tidak dekat batang otak. Namun jika dinilai dekat batang otak, tindakan yang dipilih adalah operasi.



Simak Video "Sering Diremehkan, Gondongan Bisa Berakibat Mandul pada Pria"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)