Selasa, 01 Okt 2019 06:37 WIB

Pasca Rusuh, Warga di Wamena Rentan Alami Trauma

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Foto: Seratusan orang kembali dievakuasi dari Wamena (Saiman-detikcom) Foto: Seratusan orang kembali dievakuasi dari Wamena (Saiman-detikcom)
Jakarta - Tidak hanya luka fisik, masyarakat korban kerusuhan di Wamena juga rentan mengalami trauma yang berkepanjangan dan berlangsung lama. Pasca rusuh, banyak yang masih takut kembali ke rumah dan memilih bertahan di posko pengungsian.

Trauma bisa memunculkan gangguan psikologis yang berat dan mereka yang menjadi korban sangat rentan mengalami stres. Untuk meminimalisir hal tersebut, Direktorat Jenderal P2P Kementerian Kesehatan khususnya kesehatan jiwa dan NAPZA sudah menyiapkan tim trauma healing yang direncanakan berangkat malam ini dan disiapkan sampai dengan hari Kamis mendatang.



"Fokus kita ada dua, tetap pada korban yang ada di Wamena dan juga kepada keluarga korban yang masih ada di masyarakat. Jadi kita memberikan pelayanan bukan hanya kepada mereka yang sakit dan atau dirawat tetapi juga kepada masyarakat yang mengalami, menyaksikan dan melihat tetapi tidak memerlukan perawatan kesehatan secara fisik," kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Anung Sugihantono, saat ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2019).

Pemberian pelayanan psikologis yang intensif kepada korban diharapkan mampu menekan angka depresi pasca kerusuhan dan meningkatkan ketahanan masyarakat jika sewaktu-waktu menghadapi masalah lainnya. Pemberian pelayanan psikologis dan pemulihan trauma saat ini berfokus pada anak-anak yang sangat rentan mengalami tekanan.

"Secara bertahap, skenario untuk penguatan di komunitas dan institusi terutama anak sekolah menjadi bagian dari layanan yang akan diberikan oleh tim trauma healing," tutupnya.



Simak Video "Teknik Meditasi Pernapasan Sederhana"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/wdw)