Kamis, 03 Okt 2019 16:39 WIB

Jas Putih dan Atribut Medis Jadi Pelindung Dokter di Papua

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Situasi Wamena berangsur normal pasca kerusuhan (Foto: Saiman-detikcom) Situasi Wamena berangsur normal pasca kerusuhan (Foto: Saiman-detikcom)
Jakarta - Keselamatan dokter di Papua pasca kerusuhan yang terjadi di Wamena sempat jadi sorotan. Banyak dokter yang minta dipulangkan ke daerah asalnya karena takut akan keadaan di Papua.

Namun, ketakutan tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan menggunakan atribut kedokteran yang dimiliki. Bukan hanya sebagai tanda pengenal, atribut dokter juga bisa menjadi tameng atau pelindung dokter yang bertugas di daerah Papua.

"Ya atribut seperti jas putih, tanda pengenal atau name tag untuk dokter, dan atribut lainnya bisa menjadi pelindung mereka. Masyarakat di Papua sana sangat menghargai dan menghormati keberadaan tenaga medis, khususnya dokter serta memandang mereka sebagai pahlawan," jelas dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), pada acara temu media di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2019).



Pendapat senada juga disampaikan oleh salah satu dokter yang bertugas di Papua, tepatnya di RSUD Fak-Fak, dr Subhan Rumooning, SpPD. Ia mengatakan, profesi dokter di Papua cukup dihormati.

"Di sini, dokter itu dapat dikatakan sejajar dengan bupati. Jadi, saat masyarakat setempat tahu dia dokter melalui atribut yang digunakannya, maka mereka akan menghormati dan melindungi orang tersebut. Itu yang membuktikan kalau masyarakat Papua sebenarnya sangat mendukung keberadaan dokter di sini," ujar dr Subhan.

dr Rizky Aniza Winanda, SpKJ, RSUD Scholoo Keyen, psikiater yang bertugas di Sorong Selatan, Papua Barat juga mengatakan, masyarakat asli di sana sangat terbuka dan menyambut hangat para pendatang yang datang.

"Jadi tidak perlu ada rasa takut dan khawatir, karena masyarakat di sana sangat menyambut kedatangan para pendatang dan tenaga medis yang bertugas di Papua juga diberikan penjagaan yang maksimal," imbuhnya.



Simak Video "IDI Sebut Tingkat Kematian Akibat Virus Corona Rendah"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)