Selasa, 08 Okt 2019 15:45 WIB

Akankah Malaysia Ikuti Jejak Thailand Melegalkan Ganja Medis?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Salah satu aksi menuntut legalisasi ganja (Foto: Hasan Alhabshy) Salah satu aksi menuntut legalisasi ganja (Foto: Hasan Alhabshy)
Jakarta - Saat ini, warga Malaysia tengah membuat petisi untuk membebaskan Muhammad Lukman Bin Mohamad dari hukuman mati wajib karena memiliki lebih dari 200 gram ganja (gulma) dalam bentuk cair yang digunakan untuk pengobatan medis.

Diketahui, Lukman menggunakan ganja tersebut untuk mengobati hampir 800 orang. Atas tuntutan itu, Malaysia mungkin segera menjadi negara kedua di Asia Tenggara yang melegalkan ganja untuk penggunaan medis.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Menteri Air, Tanah, dan Sumber Daya Alam Dr. A. Xavier Jayakumar mengungkapkan bahwa kabinet telah memulai pembicaraan informal untuk mempertimbangkan nilai obat dari ganja.

Mengutip bahwa legalisasi ganja medis telah dilakukan di negara-negara tertentu, Dr. Xavier menambahkan bahwa obat tersebut harus diizinkan untuk digunakan untuk tujuan pengobatan.

"Pandangan pribadi saya adalah bahwa jika mendapat nilai obat, maka itu dapat menjadi item yang terkontrol yang dapat digunakan oleh Departemen Kesehatan untuk tujuan resep," katanya dikutip dari The Coverage.



Menurut sebuah laporan besar oleh National Academies of Science, Engineering, and Medicine dengan judul 'Efek Kesehatan dari Cannabis dan Cannabinoid, Koresponden Asia' menulis bahwa kanabis sangat efektif dalam mengobati nyeri kronis serta mual yang terkait dengan kemoterapi dan muntah pada pasien kanker.

Dr. Xavier mengakui bahwa mengumpulkan dukungan untuk langkah ini akan menjadi 'perjuangan berat' karena Kementerian Kesehatan belum dapat diyakinkan tentang nilai obat ganja.

"Dibutuhkan sedikit dorongan dan meyakinkan sejauh menyangkut topik ini," sebutnya.

Selain kebijakan tanpa toleransi Malaysia, perdagangan narkoba juga dapat dihukum mati di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Indonesia dan Filipina.



Sebelumnya, Pemerintah Thailand telah melegalkan ganja untuk pengobatan dan riset. Dengan aturan ini, Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang membolehkan ganja medis.

"Ini menjadi hadiah tahun baru dari Dewan Legislatif Nasional pada pemerintah dan warga Thailand," kata Ketua Komite Perencanaan Aturan Legalisasi Ganja Somchai Sawangkarn, dikutip dari CNBC, di akhir 2018 silam.

Ganja medis telah terbukti efektif dalam mengobati beberapa penyakit termasuk Alzheimer, penyakit Crohn, multiple sclerosis, epilepsi parah, skizofrenia dan gangguan stres pascatrauma.



Simak Video "Buka Lowongan! Penguji Ganja Profesional Dibayar Rp 500 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)