Sabtu, 12 Okt 2019 06:38 WIB

Penarikan Obat Maag Ranitidin Terkait Risiko Kanker Bukan Cuma di Indonesia

Michelle Natasya - detikHealth
Kepala BPOM Penny K Lukito (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth) Kepala BPOM Penny K Lukito (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara produk, distribusi, dan peredaran semua produk ranitidin. Sebenarnya, penarikan bukan hanya dilakukan di Indonesia.

Bermula pada 13 September 2019, Food and Drug Administration (FDA) menemukan adanya cemaran N-nitrosodimethylamine (NDMA) dalam obat maag dan asam lambung tersebut. Temuan ini lalu diinvestigasi oleh European Medicines Agency.

Sepekan kemudian, Health Sciences Authority's (HSA) di Singapura menyetop sejumlah produk ranitidin. Dikutip dari The Straits Times, produk yang ditarik meliputi Aciloc, Apo-Ranitidine, Hyzan, Neoceptin, Vesyca (berlapis film), Xanidine, Zantac (injeksi, sirup, dan tablet) dan Zynol-150.

BPOM saat itu akhirnya mengeluarkan peringatan untuk tenaga medis terkait temuan tersebut pada 4 Oktober 2019. Ada cemaran NDMA yang melampaui ambang batas, namun belum ada perintah penarikan. Beberapa perusahaan disebutkan sudah melakukan penarikan sukarela.

Baru pada 7 Oktober 2019, BPOM merilis 5 produk obat maag dan asam lambung ranitidin yang tercemar NDMA. Daftar itu kemudian bertambah karena pada 11 Oktober 2019, BPOM memutuskan untuk menarik total 67 batch produk ranitidin.

"Kami memutuskan untuk meng-hold dulu, semuanya kita tarik, izin edarnya kita bekukan dulu sementara," jelas Kepala Badan POM, Penny K Lukito, saat ditemui detikcom, Jumat (11/,10/2019).

BPOM memutuskan untuk menarik semua produk ranitidin.BPOM memutuskan untuk menarik semua produk ranitidin. Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth




Nurul Falah E.P, Ikatan Apoteker Indonesia mengapresiasi BPOM yang bertindak cepat terkait temuan NDMA dalam produk ranitidin. Ia juga mengatakan masyarakat tak perlu resah, sebab tersedia alternatif obat selain ranitidin yang bisa disesuaikan berdasarkan indikasi medis.

"Saya kasih apresiasi pada BPOM yang cepat sekali bertindak dalam langkah kehati-hatian. Sehingga, teman-teman apoteker yang di industri farmasi sudah diperintahkan untuk berhenti produksi, kemudian distribusi juga dihentikan, bahkan recall produk yang sudah beredar," kata Nurul.

dr Rika Yuliwulandari dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), mengatakan bahwa penghentian produk ranitidin ini sebagai bentuk kehati-hatian BPOM dan tenaga kesehatan dunia dan Indonesia. Oleh karena itu, penerapan meminimalisir eksposur N-Nitrosodimethylamine (NDMA) pada masyarakat harus dilakukan.

"Karena NDMA jadi timbul kanker ini kan harus long and high exposure. Jadi harapan kami dengan langkah ini keresahan masyarakat bisa diminimalisir," pungkas Rika.

Penarikan ranitidin bukan hanya dilakukan BPOM di Indonesia. Sejumlah negara termasuk Singapura sudah lebih dulu melakukannya terkait temuan kontaminasi NDMA baru-baru ini.





Simak Video "Obat Maag Ranitidin Ditarik, BPOM Umumkan Daftar Obat Pengganti"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)