Rabu, 23 Okt 2019 05:00 WIB

Round Up

Sepak Terjang dr Terawan, Kontroversi 'Cuci Otak' hingga Jadi Calon Menkes

Frieda Isyana Putri - detikHealth
dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) (Foto: Widiya/detikHealth) dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) (Foto: Widiya/detikHealth)
Jakarta - Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Mayjen TNI Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) telah ditunjuk untuk mengisi posisi Menteri Kesehatan menggantikan Nila F Moeloek dalam Kabinet Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf 2019-2024.

Hal tersebut dibenarkan oleh dr Terawan dan ia juga telah membahas beberapa masalah kesehatan seperti BPJS Kesehatan dan stunting. Terawan juga disebut akan mengundurkan diri dari jabatan Mayor Jenderal TNI usai dilantik sebagai Menkes nanti.

Pria berusia 55 tahun ini lahir di Yogyakarta 5 Agustus 1964 sempat menimbulkan kontroversi dalam dunia medis Indonesia. Pasalnya, terapi 'cuci otak' yang menggunakan alat Digital Subtraction Angiography (DSA) disebut dinilai belum teruji secara ilmiah karena DSA sebetulnya alat diagnosis.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) pada bulan April 2018 menetapkan dr Terawan melakukan pelanggaran kode etik dengan sanksi pemecatan sementara. Isu pemecatan dr Terawan ini meledak menarik perhatian berbagai pihak. Banyak dukungan datang untuk dr Terawan.

"Sebenarnya DSA alat untuk diagnosis. Di dr T dijadikan alat untuk terapi bahkan prevensi. Analoginya, apa bisa kalau batuk dirontgen terus batuknya sembuh? Itu kan untuk diagnosis," kata Prof Dr dr Moh Hasan Machfoed, SpS(K), MS, yang saat itu menjabat ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).


Kontroversi dr Terawan sampai dibahas di DPR RI.Kontroversi dr Terawan sampai dibahas di DPR RI. Foto: Lamhot Aritonang


Cuci otak merupakan istilah lain flushing atau DSA yang dilakukan dr Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala. DSA diakuinya merupakan disertasi yang ia lakukan sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar doktor di Universitas Hasanudin. Ia mulai memperkenalkan metode ini di RSPAD sejak 2004, klaimnya.

Dengan cara ini ia disebut berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke salah satunya Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Moeldoko.

Pada pembelaannya saat ditemui di Rumah Sakit Kepresidenan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, dr Terawan mengaku bahwa awalnya hanya untuk meningkatkan keselamatan pasien saat tindakan.


dr Terawan di ruang 'cuci otak' RSPAD Gatot Soebroto.dr Terawan di ruang 'cuci otak' RSPAD Gatot Soebroto. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth


"Tujuannya dulu adalah untuk meningkatkan safety pada pasien untuk tindakan DSA itu sendiri. Tapi dengan meningkatkan safety untuk pasien, lho hasilnya malah positif untuk pasien. Jadi penemuannya sebenarnya ya berkah Yang Kuasa," ujarnya saat itu.

Alat DSA sendiri sebenarnya merupakan alat untuk mendiagnosis dengan menggambarkan kondisi pembuluh darah di otak. Namun dengan mengembangkan teknik DSA, penggunaan alat DSA itu pun bisa untuk terapi beberapa kondisi.

Pada akhirnya sanksi etik berupa pencabutan izin praktik terhadap lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Yogyakarta ini ditunda. Ia kembali melakukan terapi cuci otak dengan DSA termasuk pada sekitar 1.000 warga Vietnam sebagai upaya mempromosikan medical tourism pada akhir November lalu.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (purn) Moeldoko juga masih memastikan dr Terawan Agus Putranto tetap sebagai Tim Medis Kepresidenan. Dalam kasus pemecatan Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto oleh Mahkamah Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Moeldoko menilai akarnya pada masalah komunikasi.



Simak Video "Mak Erot Disebut Potensial untuk Wisata Kebugaran, Ini Pendapat Tompi"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)