Senin, 11 Nov 2019 18:08 WIB

Amerika Serikat Atasi Kecanduan Narkoba dengan Implan Otak

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kecanduan narkoba (Foto: thinkstock) Kecanduan narkoba (Foto: thinkstock)
Jakarta - Seorang pasien yang mengalami kecanduan akut opioid diberikan perawatan medis, dengan melakukan implan otak. Opioid ini mengandung tanaman opium seperti morfin, yang merupakan salah satu golongan analgesik atau narkotik.

Pria bernama Gerod Buckhalter (33) telah berjuang dari penyalahgunaan zat tersebut selama lebih dari satu dekade, dan sudah mengalami overdosis serta menjalani operasi. Awalnya, ia diberikan opioid saat mengalami cedera bermain sepak bola di usia 18 tahun.

Buckhalter menjalani operasi implan otak ini pada 1 November 2019, di Rumah Sakit Kedokteran Universitas Virginia Barat. Tengkoraknya di lubangi dan dimasukkan elektroda sebesar 1 milimeter di area spesifik otak untuk mengatur implus, seperti kecanduan dan kontrol diri. Saat alat itu masuk, tim dokter, psikolog, dan pakar kecanduan terus memantau keadaannya.



Tindakan yang disebut stimulasi otak dalam (DBS) ini telah disetujui oleh Administrasi Makan dan Obat AS untuk mengobati berbagai kondisi, seperti parkinson, epilepsi, dan gangguan kompulsif obsesif. Dalam DBS ini juga melibatkan banyak tim, termasuk ahli etika, psikologi, dan regulator.

"Perawatan ini ditujukan untuk mereka yang gagal dalam perawatan lain, misal obat, terapi perilaku, ataupun intervensi sosial. Kecanduan itu adalah hal yang kompleks, sehingga jika otak kurang perawatan, lama-lama akan berubah dan menginginkan itu lebih banyak," ujar dr Rezai yang dikutip dari BBC.

Di AS, tingkat kematian akibat overdosis meningkat dan melibatkan opioid. Pada 2017, ada 49,6 kematian per 100 ribu orang. dr Rezai menyarankan agar penelitian terkait teknologi kesehatan seperti ini diperbanyak lagi.

"Kita perlu menemukan solusi, karena ini adalah situasi yang mengancam jiwa dan akan berdampak pada orang-orang terdekat kita. Namun, tindakan pembedahan ini memiliki risiko yang serius dan hanya bisa digunakan pada pasien dengan penyakit kronis," katanya.



Simak Video "Komitmen Ikatan Dokter Indonesia di HUT ke-69"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)