Senin, 18 Nov 2019 10:38 WIB

Heboh Teror Pelemparan Sperma, Apa Pendorong Aksi Ekshibisionisme?

Firdaus Anwar - detikHealth
Aksi teror lempar sperma telah dilaporkan ke Polresta Tasikmalaya. (Foto: Deden Rahadian) Aksi teror lempar sperma telah dilaporkan ke Polresta Tasikmalaya. (Foto: Deden Rahadian)
Jakarta - Di Tasikmalaya, Jawa Barat, sedang heboh kasus teror lempar sperma pada ibu rumah tangga. Hal ini diketahui setelah salah satu korban berinisial LR melaporkannya pada polisi.

Saat kejadian LR sedang menunggu ojek online di Jalan Letjen Mashudi lalu dihampiri pelaku yang menggunakan motor matic. Secara tiba-tiba pelaku langsung meraba dan menggesek kemaluannya sendiri, hingga akhirnya melempar sperma ke arah LR.

Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni, menilai hal ini masuk dalam bentuk ekshibisionisme yang agresif. "Jadi ini semakin beragam dan macam-macam, jadi kalau ekshibisionisme biasanya tidak senekat itu, rata-rata mereka duduk di satu tempat orang yang melihat, kalau ini kan mendatangi. Jadi semakin agresif dan lebih aktif bentuknya," ujar Wahyuni saat dihubungi detikcom.


Ekshibisionisme menurut buku pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) termasuk ke dalam kelompok perilaku penyimpangan seksual disebut paraphilia. Seorang dengan ekshibisionisme bisa mendapatkan kepuasaan seksual ketika memperlihatkan organ intimnya pada orang lain.

Menurut psikolog Michael Bader dalam artikelnya di Psychology Today menyebut seorang pria bisa terdorong untuk melakukan aksi ekshibisionisme karena rasa kecemasan. Penyebabnya bisa karena ia merasa inferior.

"Ini mendorong seorang pria untuk mengkompensasinya dengan menampilkan ego secara agresif, terutama pada wanita, untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia kuat, penting, dan maskulin. Tidak lemah, rentan, dan feminin," kata Michael.

Hal serupa juga pernah dikatakan oleh ahli kesehatan jiwa dr Andri, SpKJ, FACLP, dari Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera. Salah satu pemicu ekshibisionis bisa jadi karena pelaku yang merasa sulit dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

"Akhirnya dia merasa seperti berkuasa ketika ia mampu menakut-nakuti atau mendapatkan reaksi kaget dari orang lain ketika dia melakukan ekshibisionisme tersebut," kata dr Andri pada detikcom beberapa waktu lalu.



Simak Video "Teknik Meditasi Pernapasan Sederhana"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/frp)