Jumat, 22 Nov 2019 12:20 WIB

1.182 Pasien Berisiko Kena HIV dan Hepatitis Karena Alat Bedah tak Steril

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi alat bedah tidak steril. Foto: thinkstock
Jakarta - Sekitar lebih dari 1.000 pasien diduga berisiko terinfeksi HIV, hepatitis C dan hepatitis B serta infeksi lainnya di Goshen Hospital di Northern Indiana. Ini diketahui setelah pimpinan rumah sakit menuliskan surat kepada sekitar 1.182 pasien.

Dikutip dari rilis yang dikeluarkan pihak rumah sakit tersebut, ada satu langkah yaitu proses sterilisasi pada alat-alat operasi yang tidak dijalankan oleh petugas medis. Hasilnya, ada potensial risiko bagi pasien yang telah menjalani operasi untuk terpapar suatu infeksi walaupun risikonya terbilang minimal.

Langkah sterilisasi itu terlewati pada prosedur operasi yang berlangsung dari April hingga September 2019. Kini, sebagai tindakan tanggung jawab, pihak rumah sakit menawarkan para pasien yang telah menjalani operasi dalam rentang waktu tersebut sebuah pemeriksaan secara gratis untuk mengetahui dirinya terpapar suatu infeksi atau tidak.

"Seperti halnya masalah keselamatan pasien, kami dengan cermat menyelidiki semua aspek pada insiden tersebut. Kami telah menerapkan kebijakan ketat dan langkah-langkah keamanan tambahan untuk memastikan hal itu tidak terjadi lagi. Kami juga ingin menyampaikan keprihatinan kami untuk semua pasien," kata kepala staf medis rumah sakit tersebut, Dr Daniel Nafziger.



Pemeriksaan gratis bagi pasien yang terduga terinfeksi pun melalui pengambilan darah di lokasi yang sudah ditentukan dan pihak rumah sakit mempermudah akses agar mudah dijangkau pasien. Pihak rumah sakit pun membuka layanan telepon bagi pasien yang ingin bertanya.

Alat-alat bedah yang dipermasalahkan tersebut masih dalam proses disinfektan kimia dan sterilisasi dengan mesin. Namun masih belum dapat dipastikan nantinya alat-alat bedah itu bisa benar-benar steril atau tidak.

Lori Deboard, seorang pasien yang menjalani operasi pada periode waktu itu pun merasa sangat khawatir terhadap dirinya dan juga keluarganya. "Saya marah... Karena ketika Anda memberitahu seseorang bahwa mereka bisa menghadapi risiko seperti itu, tidak hanya melibatkan Anda, itu melibatkan keluarga Anda, orang penting Anda," ungkapnya kepada stasiun televisi setempat.



Simak Video "WHO: 73 Negara Alami Krisis Obat HIV di Tengah Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)