Jumat, 22 Nov 2019 20:03 WIB

Menkes Terawan Sebut Beban BPJS Kesehatan Besar Karena Indikasi Tak Tepat

Andhika Prasetia - detikHealth
Menkes Terawan Agus Putranto mengatakan besarnya beban BPJS Kesehatan karena indikasi yang tidak tepat. Foto: Andhika Prasetya/detikcom
Jakarta - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan saat ini disebut oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menanggung beban biaya yang tidak masuk akal. Ia berjanji akan melakukan penyesuaian tanpa perampingan layanan kesehatan.

Menurut Menkes Terawan beban biaya berlebih BPJS Kesehatan ini diakibatkan oleh indikasi yang tidak tepat. Sebagai contoh Menkes Terawan menyebut biaya penyakit jantung tahun lalu yang mencapai Rp 10,5 triliun dan banyaknya operasi caesar.


"Mosok, kita indikasinya tidak tepat kan itu pemborosan. Kayak jantung kemarin 10,5 triliun menurut kamu piye, masuk akal enggak? Ya enggak toh. Di logika saja enggak masuk akal. Terus jelas, persalinan sectio (caesar). perbandingan sectio dengan normal kok 45 persen, wong WHO (World Health Organization) wae 20 persen," ungkap Menkes Terawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (22/11/2019).

Saat ini Menkes Terawan masih akan berbicara dengan BPJS Kesehatan, organisasi profesi, dan rumah sakit. Tidak menutup kemungkinan untuk dibuat regulasi khusus tentang penanganan pasien BPJS Kesehatan.

"Iya sehingga tidak ada ketersinggungan, semua nyaman. Tapi endingnya terlaksana semua," kata Menkes Terawan.

"Tergantung para dokternya ini. Kalau tidak bisa ngatur dirinya sendiri ya kita yang ngatur," pungkasnya.



Simak Video "Menkes Ungkap Alasan Ubah Istilah PDP-ODP Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)