Selasa, 26 Nov 2019 13:04 WIB

Lewat Kampanye Foto Rontgen Paru-paru, Vaper Minta BPOM Kaji Ulang Pelarangan

Widiya Wiyanti - detikHealth
Pameran foto rontgen dada para pengguna vape. dok. Pentolan Vape Jawa Timur (PVJT) Pameran foto rontgen dada para pengguna vape. dok. Pentolan Vape Jawa Timur (PVJT)
Jakarta - Setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merencanakan akan melakukan pelarangan terhadap rokok elektrik atau vape di Indonesia, para pengguna vape atau yang sering disebut vaper justru terus melakukan tindakan kampanye.

Kampanye yang dilakukan yakni memamerkan foto-foto rontgen paru-paru para vaper yang diyakini sama paru-parunya bersih. Melalui foto rontgen paru-paru tersebut, Komunitas Pentolan Vape Jawa Timur (PVJT) meminta BPOM untuk mengkaji ulang keputusan yang telah dibuat soal pelarangan vape.

"Kalau yang dipermasalahkan zat adiktif, banyak produk selain vape yang terkandung zat adiktif di dalamnya. Dan juga yang dipermasalahkan adalah banyak senyawa kimia, kita menghirup udara saja sudah memasukkan senyawa kimia di tubuh kita yaitu Oksigen (O2)" ujar Paijo, Vape Louder sekaligus pembina dari PVJT kepada detikcom, Senin (25/11/2019).

"Saya rasa BPOM perlu mengkaji ulang keputusan tersebut. Dan kami harap untuk BPOM sendiri bisa memberikan solusi kepada kami apabila keputusan-keputusan diarahkan sepihak ke kami, kita akan dikasih alternatif seperti apa. Karena vape ini sendiri adalah pilihan alternatif yang sudah kami pilih dan baik bagi kami," lanjutnya.



Paijo mengatakan bahwa vape memiliki dampak yang cukup positif bagi para vaper, salah satunya adalah sebuah media alternatif untuk perokok aktif mengurangi atau berhenti dari kebiasaannya merokok. Bahkan disebut Paijo, bagi sebagian vaper, menggunakan vape membuat mereka tidak merasa sesak napas pada pagi hari.

Di sisi lain, vape sendiri menimbulkan kontradiktif karena disebut memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Bahkan beberapa ahli kesehatan pun menegaskan bahwa vape sama bahayanya dengan rokok konvensional.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR pernah mengatakan bahwa vape tidak bisa disebut sebagai alat untuk membantu berhenti merokok konvensional. Bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun tidak merekomendasikannya karena beberapa alasan.

"Tidak sesuai dengan syarat untuk modalitas berhenti merokok karena masih mengandung bahan berbahaya, seperti bahan karsinogen, zat bersifat toksik dan iritatif," katanya saat ditemui detikcom di di kantor pusat Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.



Simak Video "Bersiteguh Vape Aman, Vaper Ramai-ramai Pamer Rontgen Dada"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)