Selasa, 03 Des 2019 14:42 WIB

Granat Asap Meledak di Monas, Apakah Berbahaya Bila Terpapar Asapnya?

Firdaus Anwar - detikHealth
Ledakan di Monas. Foto: Rifkianto Nugroho Ledakan di Monas. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Granat asap dikabarkan meledak di Monas pada Selasa (3/12/2019) menimbulkan korban luka-luka. Biasanya granat jenis ini digunakan dalam operasi militer dan memiliki fungsi untuk menghasilkan asap pekat melalui reaksi kimia.

Terkait hal tersebut di Internet muncul pertanyaan apakah asap yang dihasilkan granat jenis ini berbahaya untuk kesehatan? Peneliti dalam buku "Toxicity of Military Smokes and Obscurants" yang dikeluarkan oleh Konsil Riset Nasional Amerika Serikat menyebut ada risiko namun tergantung jenis granat asap yang digunakan.



Sebagai contoh dalam granat asap dengan pewarna model baru diketahui beberapa bisa menimbulkan iritasi pada kulit. Kondisi ini dalam dunia medis sering disebut sebagai kontak dermatitis.

"Untuk formula asap kuning dan hijau yang baru, perhatian utama adalah dermatitis alergi kontak yang ditunjukkan pada beberapa manusia terpapar pelarut kuning 33," tulis peneliti seperti dikutip dari National Center for Biotechnology Information (NCBI).

Sementara itu untuk granat asap model lama ada bahan kimia pewarna bernama solvent green 3 yang bisa menumpuk di paru-paru, menimbulkan peradangan.

"Saat terhirup, solvent green 3 perlu waktu lama untuk dibersihkan dari paru-paru. Dalam studi retensi solvent green 3, tikus diberikan zat pewarna. Hasilnya ditemukan sekitar 87 persen dari dosis awal kandungan zat masih ditemukan dalam tubuh tikus usai 24 jam," kata peneliti.

Dalam kejadian granat asap yang meledak di Monas, dua orang korban luka merupakan anggota TNI. Saat ini keduanya dirawat di RSPAD.



Simak Video "Dampak Granat Meledak, Pendarahan Parah hingga Kematian"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/wdw)