Kamis, 05 Des 2019 14:49 WIB

Saat Anak Lahir Cacat, Ini Saran Psikolog untuk Pasangan Muda

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ilustrasi pasangan muda yang memiliki anak lahir cacat. Foto: iStock Ilustrasi pasangan muda yang memiliki anak lahir cacat. Foto: iStock
Jakarta - Sempat viral di media sosial tentang seorang ibu muda di Surabaya mengaku ditinggal suami karena anak yang baru lahir kondisinya tak sempurna atau cacat.

Menanggapi hal tersebut, psikolog anak Saskhya Aulia Prima, MPsi dari Tiga Generasi menegaskan, peran suami sangat penting dalam keberlangsungan hubungan bersama untuk mengasuh anak, khususnya anak yang lahir dengan kondisi tidak sempurna. Jika ibu tidak mendapatkan dukungan dari suami, akan sulit membuat ibu menerima kenyataan tersebut dan dapat berdampak pula terhadap psikologis anak nantinya.

Menurut Saskhya jika istri tidak mendapatkan perhatian dari suami, maka dukungan atau support system di lingkungan sekitar baik keluarga ataupun teman-teman dekat memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah depresi.



"Kalo dia tidak mendapatkan dukungan dari suami, tentunya harus ada dukungan atau support system dari keluarga di rumah atau teman-temannya, siapa saja karena itu yang dia butuhkan," kata Saskhya saat ditemui di Hotel Ayana Mid Plaza, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2019).

Saskhya juga menuturkan, bertukar pikiran dengan komunitas-komunitas lain dapat menjadi suatu solusi untuk penerimaaan diri bagi para ibu atau orang tua yang memiliki kondisi seperti itu.

"Lalu itu tadi, disarankan juga untuk bertukar pikiran dengan ibu lain dalam komunitas nantinya, dari sana si ibu mulai bisa menerima kondisi, menjalin relasi dengan komunitas-komunitas ini kan berbagi pengalaman juga, termasuk dengan ibu-ibu yang kemungkinan memiliki kasus yang sama," ujar Saskhya.

Tak hanya itu, Saskhya menambahkan ibu, yang memiliki anak dengan kondisi tidak sempurna disarankan untuk selalu mengonsumsi makanan-makanan sehat agar menghasilkan mood yang baik dan selalu positif. Sang suami pun harus selalu mengingatkan hal ini.

"Si ibu juga harus mensugesti diri sendiri untuk selalu positif ngatur hormonal yang nggak bisa kekontrol ya. That's why kenapa tadi saya bilang usus itu adalah otak kedua kita. Makanan yang kita makan itu ngaruh ke jumlah produksi hormon, karena ternyata 99 persen hormon yang bisa membuat kita lebih kalem itu adanya di usus," pungkas Saskhya.



Simak Video "Heboh Virus Corona, Uya Kuya Berbagi Tips Tutup Mulut saat Bersin"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)