Kamis, 05 Des 2019 16:37 WIB

Ramai Soal Kak Seto Usulkan Sekolah Tiga Hari, Ini Kata Psikolog

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Sebenarnya berapa lama waktu sekolah yang ideal bagi anak? (Foto: iStock) Sebenarnya berapa lama waktu sekolah yang ideal bagi anak? (Foto: iStock)
Jakarta - Ramai diperbincangkan di media sosial tentang usulan yang dilakukan oleh Ketua Lembaga Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Diusulkan agar sekolah cukup dijadikan tiga hari saja di dalam kurikulum baru yang sedang dirancang.

Menanggapi hal tersebut psikolog Ratih Zulhaqqi, MPsi, dari RaQQi - Human Development & Learning Centre menyatakan yang perlu diperhatikan adalah porsi beban pembelajarannya. Waktu sekolah tiga hari bisa sama sama saja dengan sekolah lima hari seminggu bila bebannya dipadatkan.

"Sebenarnya kalau jumlah hari sekolahnya adalah tiga hari, terus beban belajarnya tetap sama, beban PR (pekerjaan rumah) tetap sama. Mungkin jadinya akan sama saja, yang paling terpenting itu poinnya perlu dikaji lagi," kata Ratih kepada detikcom, pada Kamis (5/12/2019).

Sebagai psikolog, Ratih pun memberikan pendapat tentang tumbuh kembang murid yang perlu dipikirkan untuk kurikulum baru yang dirancang saat ini.

"Sebenarnya kurikulum yang paling tepat itu gimana dan disesuaikan dengan usia perkembangan itu yang paling pertama, terus ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan porsinya semuanya dominan," ucap Ratih.


Setiap anak memiliki kepribadian dan kemampuan yang berbeda-beda, maka Ratih lebih mengusulkan untuk lebih menyesuaikan karakteristik kemampuan masing-masing murid.

"Misalnya gini, oh ada anak yang cenderung lebih jagi matematika, oke kita coba kembangin sesuai dengan kemampuannya dia. Kan kita mengenal multiple intelligence (kecerdasan ganda dalam menyelesaikan masalah), atau misalnya oh anak ini jagonya dalam mengingat dan hapalan, yaudah kita kembanginnya di sana. Jadi lebih memperhatikan pendidikan itu sesuai dengan kebutuhannya anak," kata Ratih memberikan usulan.

Menyesuaikan karakteristik kemampuan masing-masing anak dalam memberikan pendidikan, dapat membuat tumbuh kembangnya menjadi lebih baik, karena murid akan belajar dengan sesuatu yang disukainya.

Hal ini menjelaskan, bahwa menjadikan sekolah hanya tiga hari selama seminggu belum tentu membuktikan sepenuhnya kalau murid tak akan stres karena beban belajar.

"Enggak bisa kalau tiga hari selama seminggu, anak bisa enggak stres gitu. Karena kebetulan aku belum menemukan riset yang memang benar-benar memperlihatkan tiga hari dalam seminggu itu adalah waktu yang tepat untuk anak bersekolah," tambah Ratih.



Simak Video "Apa Sih Quarter Life Crisis?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)