Jumat, 06 Des 2019 17:19 WIB

Simulasi Tunanetra: Begini Rasanya Saat Orang Normal Jadi 'Buta' Sesaat

Widiya Wiyanti - detikHealth
Simulasi tunanetra, orang normal jadi 'buta' sesaat. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth
Jakarta - Pernahkah terlintas di pikiran kamu yang memiliki penglihatan normal menjadi seorang yang memiliki gangguan penglihatan atau tunanetra? Membayangkannya saja pasti sulit untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

Dalam suatu kesempatan, detikcom mencoba merasakan sensasi menjadi orang 'buta' sementara dalam simulasi Multi-Sensory Experience di Museum Macan, Jakarta dengan menggunakan kacamata untuk simulasi gangguan penglihatan. Ada dua jenis kacamata yang disediakan, yakni untuk simulasi full blindness (buta total) dan tunnel vision (gangguan penglihatan yang menyebabkan penglihatan terbatas dan bertitik pada satu fokus).

Saat menggunakan kacamata full blindness, penglihatan benar-benar gelap total dan harus dipandu atau digandeng oleh pemandu memasuki area simulasi. Tangan harus benar-benar aktif meraba apa yang ada di sekitar. Sementara saat menggunakan kacamata tunnel vision, penglihatan buram dan hanya bisa melihat satu titik di ujung penglihatan, sedangkan di sekeliling titik penglihatan gelap seperti layaknya di lorong.

Awal simulasi detikcom diharuskan menyentuh beberapa benda dan menebak benda apa itu, seperti buah-buahan, sepatu, meja rumput, hingga kotak pasir. Dengan simulasi itu, seseorang dapat mengetahui bagaimana cara para tunanetra mengindentifikasi suatu benda hanya dengan sentuhan. Namun bagi yang tidak terbiasa, mungkin mengidentifikasi suatu benda akan memakan waktu cukup lama.

Simulasi sensorik dengan mengidentifikasi benda-benda lewat sentuhan. Simulasi sensorik dengan mengidentifikasi benda-benda lewat sentuhan. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth


Simulasi berikutnya adalah simulasi untuk mengidentifikasi suatu kondisi sekitar dengan pendengaran. detikcom diberikan alat pendengar atau headphone untuk mendengarkan suara-suara tertentu, misalnya suara mobil melaju, suara kereta api, atau suara pesawat terbang dan mendeskripsikannya suara itu menggambarkan tempat apa atau di mana. Simulasi ini memberikan sensasi seakan berada di tempat tersebut.

Simulari mengidentifikasi suara.Simulasi mengidentifikasi suara. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth




Pada simulasi ini lah ingatan kita dilatih untuk mengingat suara-suara yang sudah didengar dan mendeskripsikannya. Latihan mengidentifikasi ini juga membutuhkan waktu cukup lama untuk orang normal, bahkan beberapa yang mengikuti simulasi ini salah mengidentifikasi suara-suara tersebut.

Bagian terakhir, detikcom dan peserta simulasi lain berdialog bersama orang dengan gangguan penglihatan mengenai apa yang telah dicoba pada simulasi-simulasi sebelumnya.

Jaka, seorang tunanetra yang juga aktivis dalam organisasi CBM mengatakan bahwa simulasi ini dapat memberikan sensasi bagaimana menjadi seperti dirinya dalam keseharian. Terutama dilemanya orang-orang dengan low vision (penglihatan buruk).

"Sebenarnya kondisi low vision ini bisa dibilang serba nanggung ya, bisa ngeliat ya iya, nggak bisa ngeliat ya nggak, dibilang ngeliat ya susah," ungkapnya.

Dengan keterbatasan penglihatan, para tunanetra biasanya mengandalkan inderanya yang lain, seperti indera peraba dan pendengaran. Tidak jarang mereka yang tunanetra, pendengarannya jauh lebih sensitif dibandingkan orang dengan penglihatan normal.

detikers mau coba simulasi tunanetra ini? Kamu bisa datang ke Museum Macan, Jakarta Barat yang diselenggarakan pada 6-7 Desember 2019 yang diadakan oleh EyeStandbyU, gratis lho!



Simak Video "Kisah Inspiratif Pemuda Tunanetra Jadi Peselancar Muda"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)