Senin, 09 Des 2019 20:05 WIB

Pandangan Tabu Soal Kondom Disebut Picu Tingginya Penularan HIV

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Penggunaan kondom bisa membantu menekan penyebaran penyakit. (Foto: iStock)
Jakarta - Saat ini diperkirakan sekitar 640 ribu orang yang hidup dengan HIV di Indonesia. Sayangnya dari jumlah tersebut hanya sekitar 55 persen yang mengetahui status mereka dan kurang lebih 19 persen menjalani pengobatan.

Sebagian besar kasus penularan HIV disebabkan oleh hubungan seks berisiko. Tingginya angka kejadian HIV di Indonesia tiap tahun juga dipicu karena banyak pengidap yang tak tahu dirinya memiliki virus sehingga menularkan ke orang lain.

Krittayawan Boonto, perwakilan UNAIDS atau program PBB untuk HIV-AIDS di Indonesia mengatakan salah satu cara paling efektif mencegah penularan HIV adalah penggunaan kondom. Namun seringkali berbenturan dengan stigma soal kondom itu sendiri.

"Di Indonesia saat ini kan kondom nggak bisa diomongin, jadi prevention kita hampir nol dan membuat angka infeksi," katanya saat dijumpai di di Gedung Theater Salihara, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2019).


Pencegahan HIV memang beragam. Jika tak melakukan hubungan seks berisiko, aktivitas lain seperti pemakaian narkoba dan jarum suntik pun harus dihindari. Sayangnya informasi bahwa penggunaan kondom mampu mencegah penularan HIV masih dipandang miring oleh masyarakat.

Menurut Tina, sapaannya, ada beberapa faktor yang membuat kondom mendapat stigma miring di lingkungan sosial. "Indonesia belum punya seks education yang komperhensif. Di sekolah belum ada program yang omongin soal prevention HIV atau STI (infeksi menular seksual) karena masih konservatif," jelasnya.

Mau tidak mau, untuk menekan jumlah pengidap HIV baru, alat pencegahan penyakitnya harus tersosialisasi dengan baik. Namun membicarakan soal penggunaan kondom sayangnya masih sangat tabu.

"Takutnya nanti kalau kasih tahu informasi seperti itu ke anak remaja bikin mereka malah punya hubungan seks berisiko atau apa. Tapi kan sebenarnya kalau kita lihat lebih baik mereka tau informasi dan cara pencegahannya daripada tidak punya dan tetap berkegiatan (aktivitas seksual berisiko)," pungkas Tina.



Simak Video "Pelayanan ODHA di Masa Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)