Jumat, 27 Des 2019 16:53 WIB

Nge-Vape untuk Gaya-gayaan, Asosiasi Vaper: Vape untuk Terapi

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi vape. Foto: Shutterstock
Jakarta - Video penumpang yang nge-vape di kereta menjadi viral dan mendapatkan banyak hujatan dari netizen. Vaping pun dianggap sebagai ajang panjat sosial (pansos) dengan gaya-gayaan mengikuti tren.

Ketua Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) Johan Sumatri mengatakan bahwa vape merupakan alat terapi untuk para perokok yang ingin berhenti dari kebiasaan merokoknya. Vape bukan hanya sekedar untuk mengikuti tren saja.

"Vape itu tujuannya untuk media terapi. Dan kepada toko-toko kita juga imbau agar tidak menjual vape kepada orang yang tidak nge-vape sama sekali. Dan juga terutama under age," ujarnya kepada detikcom, Kamis (26/12/2019).



Johan menambahkan, AVI juga gencar memberikan informasi terkait vape guna memberikan informasi kepada masyarakat, bahwa pada dasarnya Vape tidak dibenarkan untuk orang yang sebelumnya tidak merokok. Karena menurutnya, vape diibaratkan seperti obat.

"Vape itu kan ibarat obat buat orang sakit, jadi orang yang udah ketergantungan rokok pakai vape buat berhenti merokok," lanjutnya.

Menanggapi video yang viral tersebut, AVI ingin menemui orang yang ada dalam video tersebut guna diberikan edukasi mengenai tempat mana saja yang tidak diperbolehkan untuk vaping.

"Kita edukasi lagi, bahwa vape itu kan adalah turunan rokok dan sampai saat ini kita masih mengacu pada undang-undang yang ada di rokok. Di mana ada kawasan tanpa rokok (KTR), di situ dilarang untuk nge-vape," jelasnya.



Simak Video "Bersiteguh Vape Aman, Vaper Ramai-ramai Pamer Rontgen Dada"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/kna)