Sabtu, 28 Des 2019 08:02 WIB

Ramai Diskon Akhir Tahun, Waspadai Gangguan Compulsive Buying Disorder

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ramai diskon akhir tahun bisa memicu perilaku kompulsif (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Di penghujung tahun 2019 ini, berbagai tempat perbelanjaan beramai-ramai menawarkan potongan harga atau diskon hingga promo yang menggiurkan. Tak jarang, banyak pria maupun wanita mulai menyerbunya. Tapi, hal ini ternyata bisa memicu yang namanya Compulsive Buying Disorder (CBD), apa sih itu?

CBD merupakan kondisi psikologi kronik atau hasrat yang berulang-ulang (kecanduan) untuk membeli barang atau jasa yang umum, maupun yang spesifik seperti perhiasan dan pakaian. Menurut psikiater dari RS Jiwa Marzoeki Mahdi dr Lahargo Kembaren, SpKJ, CBD ini tidak termasuk ke dalam gangguan kejiwaan, tetapi pola adiksi.

"Kita biasanya mengenali ini (CBD) sebagai suatu pola adiksi tertentu. Misalnya seperti adiksi terhadap gadget, internet, video game, pornografi. Jadi mereka punya pola yang sama, tapi tidak memiliki kriteria persis yang bisa kita ketahui langsung," jelas dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Jumat (27/12/19).

Seperti adiksi lainnya, Compulsive Buying Disorder (CBD) ini juga memiliki gejala. dr Lahargo mengatakan, ini bisa membantu untuk mengetahui dan menelaah apakah seseorang mengalami CBD.




1. Selalu berpikir untuk belanja

Orang itu terus menerus berpikir untuk berbelanja. Di dalam pikirannya, hanya terlintas niat untuk belanja meski akhirnya tidak tahu barang itu fungsinya untuk apa.

"Kita menyebutnya dengan pikiran obsesi. Jadi di dalam pikirannya ingin belanja terus, apa yang mau dibeli, mau ke toko apa, dan barang apa yang mau dibeli misalnya," jelasnya.

2. Belanja untuk mengalihkan perasaan

Orang yang mengalami CBD biasanya berbelanja hanya untuk mengalihkan perasaan yang tidak nyaman di hatinya. Misal dia merasa sedih, kecewa, gelisah, bahkan stres akan sesuatu.

"Ya itu dia belanja tujuannya cuma untuk mengalihkan saja, bukan karena dapat suatu manfaat dari barang yang mau dibelinya nanti," ujar dr Lahargo.

3. Waktu dan jumlah bertambah

Orang yang CBD cenderung menghabiskan waktu dan jumlah biaya untuk berbelanja semakin lama meningkat atau bertambah. Jika sudah terlihat tanda ini, bisa dipastikan ada suatu adiksi dalam dirinya.

4. Sulit menghentikan adiksinya

dr Lahargo mengatakan, adiksi CBD ini bisa terlihat saat sudah ada dampak negatif dari belanja berlebihan itu, misalnya lebih boros terutama saat ada diskon akhir tahun seperti ini. Tapi, saat ia ingin berhenti akan ada dampak ke fisik atau psikologis pada dirinya. Ini bisa semacam orang yang sakau atau putus dari zat tertentu.



Simak Video "UNICEF: Orang Tua Juga Harus Perhatikan Kesehatan Jiwa"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)