Rabu, 01 Jan 2020 17:01 WIB

Teliti Manfaat Ganja, Pemerintah AS Rela Keluarkan Dana Rp 41 Miliyar

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi ganja. (Foto: thinkstock)
Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat telah mengeluarkan 3 juta dolar atau sekitar Rp 41 miliar untuk mendukung para peneliti dalam mengeksplorasi potensi manfaat lain dari ganja. Studi utama akan menganalisis bagaimana ganja medis dapat digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit.

Penelitian ini akan fokus pada senyawa cannabinol atau CBD sebab ada peningkatan jumlah orang yang mencaru produk CBD untuk mengobati sakit kronis.

Meski para ahli medis mengatakan baru sedikit bukti yang menunjukkan senyawa ganja dapat membantu meredakan penyakit, penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagian mana dari ganja yang benar-benar bermanfaat.

Untuk itu, pemerintah AS memberikan dana kepada 9 tim peneliti dari berbagai universitas dan organisasi untuk mempercepat penelitian ganja medis.


Salah satu pejabat, David Shurtleff dari Pusat Nasional untuk Kesehatan Pelengkap dan Integratif (NCCIH), dikutip dari Medical Daily, menyebut penelitian terbaru harus membahas temuan dari 2017 yang menyoroti bagaimana kurangnya penelitian soal ganja. Ilmuwan mengatakan ganja memiliki sifat pereda nyeri yang dapat digunakan untuk menggantikan opioid sebagai obat resep utama.

Salah satu penerima hibah terbaru untuk mempelajari ganja adalah Judith Hellman dari University of California, San Francisco. Penelitiannya berfokus pada bagaimana tubuh dapat menghasilkan molekul pensinyalan yang mirip dengan bahan ganja.

Sebuah tim peneliti di Illinois juga menerima dana. Mereka akan membuat perpustakaan senyawa yang ada di ganja dan mungkin memiliki potensi untuk mengobati rasa sakit.

"Kami membuatnya dari awal dan mengujinya satu per satu," pungkas David Sarlah, seorang ahli kimia organik dari University of Illinois.



Simak Video "Soal Legalnya Ganja di Negara Lain, Peneliti: Jangan Samakan Indonesia!"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)