Jumat, 10 Jan 2020 15:30 WIB

Masakan Minang Vs Masakan Sunda, Mana yang Lebih Bikin Gemuk?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Masakan minang atau sunda yang lebih bikin gemuk? (Foto: doc. detikfood)
Jakarta -
Makan-makanan suku Sunda dengan Minangkabau, diolah dengan cara yang berbeda. Cara pengolahan ini membuat beberapa makanan di antaranya disebut berisiko berisiko obesitas. Namun, mana yang lebih berisiko, olahan makanan suku Minang atau Sunda, ya?

Dalam disertasinya, Dr dr Patricia Budihartini Liman, M Gizi, SpGK, menjelaskan olahan makanan suku Minang ternyata lebih menguntungkan bagi yang ingin menurunkan berat badan, jika dibandingkan dengan olahan suku Sunda. Mengapa begitu?

Dr Patricia menjelaskan banyak olahan makanan suku Sunda yang diolah dengan digoreng, dan dibakar dalam temuan penelitiannya. Hal ini bisa menyebabkan kadar Carboxymethyl Lysine (CML) tinggi.

"Secara umum, CML merupakan protein yang terikat dengan karbohidrat. Jadi di dalam makanan yang mentah itu sebetulnya memang sudah ada meskipun jumlahnya lebih rendah. Dengan proses pemasakan, dengan menggoreng, membakar, dipanggang itu kadarnya menjadi lebih tinggi," jelasnya saat ditemui detikcom di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jumat (9/1/2020).


"CML yang tinggi ini akan menyebabkan peradangan. Sehingga nantinya akan menimbulkan efek yang kurang baik bagi tubuh, untuk obesitas. Bisa juga penyakit tidak menular lain seperti, diabetes, atau cancer," tambahnya.

Meski begitu, dalam penelitian disertasinya Dr Patricia menjelaskan, rendang termasuk olahan makanan dari suku Padang yang memiliki risiko sebabkan obesitas. Namun, olahan masakan suku Sunda tetap lebih banyak berisiko obesitas, seperti ikan asin, ikan bandeng presto goreng, dan bakso.



Simak Video "Makanan Kaya Nutrisi Hasil Olahan Superfood"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)