Selasa, 21 Jan 2020 14:31 WIB

ABK Asal Enrekang Dilarung ke Laut, Ini Risiko Penyakit dari Jenazah

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Penyakit yang bisa muncul dari jenazah. Foto: Meninggal saat berlayar, jasad ABK asal Enrekang dibuang ke laut (dok. Istimewa)
Jakarta - Seorang anak buah kapal (ABK) asal Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Muh Alfatah M (20) meninggal saat berlayar. Ia meninggal karena sakit dengan gejala kaki dan wajah bengkak, nafas pendek, serta dada nyeri saat berlayar menggunakan kapal Long Xing 692 di Apia, negara Kepulauan Samoa.

Berdasarkan surat yang diterima keluarga Alfatah, ia dipindahkan ke kapal Long Xing 802 untuk dirujuk ke rumah sakit. Tapi, meninggal setelah 8 jam dipindahkan.

Di kapal ini, jenazah Alfatah dilarungkan ke laut atas alasan kesehatan. Kapten kapel khawatir jenazah bisa menimbulkan penyakit menular yang bisa menyerang kru kapal lain.

Jenazah manusia memang akan mulai mengalami pembusukan dalam waktu 24 jam setelah meninggal. Ini juga bisa lebih cepat tergantung dari situasinya.

Dikutip dari The Guardian, proses pembusukannya dimulai saluran pencernaan, otak, hingga ke seluruh tubuh. Hasil akan menimbulkan gas yang membuat jenazah menggembung dan mengeluarkan gas. Gas hasil pembusukan yang mengandung kuman dan bakteri akan keluar dari tubuh.

Saat mayat dibiarkan alias tidak dikubur, bisa menularkan virus seperti hepatitis B. Selain itu, bakteri Tuberkulosis (TBC) juga bisa menyebar saat udara dari paru-paru atau cairan yang keluar dari tubuh. Ini bisa terjadi jika mayat tersebut memiliki riwayat atau meninggal karena penyakit tersebut.

Selain itu, bakteri salmonella dan E.Coli yang keluar saat saluran pencernaan membusuk bisa menyebabkan diare bagi orang yang ada di sekitarnya bila mencemari sumber air bersih.


Simak Video "Dua Lagi Dokter Indonesia Meninggal karena Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)