Rabu, 22 Jan 2020 13:33 WIB

Alasan Psikologis Ada Pria Nekat Jadi Begal Bokong Seperti di Jaktim

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
BHR, begal bokong di Jakarta Timur. (Foto: BHR, pelaku begal bokong di Jakarta Timur (dok.istimewa))
Jakarta - Fenomena begal bokong memang kerap terjadi belakangan ini, dan yang terbaru adalah tertangkapnya pelaku pelecehan seksual berinisial BHR di wilayah Jakarta Timur. Hasrat seksual laki-laki seringkali dijadikan alasan untuk melakukan tindakan kriminal ini.

"Dengan alasan apa pun itu hal yang tidak dibenarkan dan itu masuk kategori pelecehan seksual karena itu mengakibatkan ketidaknyamanan oleh korban. Jadi apapun alasan itu tidak jadi hal pembenaran," kata anggota Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani, saat dihubungi, Selasa (21/1/2020).

Apa penyebab seseorang bisa melakukan tindakan pelecehan seksual?

Menurut psikolog Ratih Zulhaqqi, MPsi, dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, penyebabnya adalah bisa karena faktor internal dan eksternal.



"Yang pertama biasanya faktor dari internal, artinya bisa jadi dia mempunyai pikiran yang kaya tadi kan distorsi pikiran (tidak rasional), hal-hal yang agak ekstrem kaya tadi kan termasuk distorsi pikiran. Kemudian misalnya dia punya pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu," kata Ratih kepada detikcom, Rabu (22/1/2020).

"Jadi faktor eksternalnya adalah faktor pengasuhan juga bisa, jadi banyak faktor yang bisa melatar belakangi karakter atau kejadian pada seseorang," lanjutnya.

Ratih juga menjelaskan kurangnya peranan sosok ayah dalam mendidik juga bisa berpengaruh dalam membentuk pola pikir seseorang.

"Karena kebanyakan kurangnya peran ayah itu mempengaruhi logika seseorang, ketika logikanya nggak jalan otomatis dia nggak bisa menangkap pesan moral secara tetap kan. Lalu keputusan moral itu bukan berdasarkan hati atau perasaan, tapi berdasarkan bagaimana dia bisa pikirannya mengontrol apa yang dia katakan," ucap Ratih.



Menurutnya faktor logika untuk sangat penting. Sebab seseorang yang melakukan tindakan hanya berdasarkan perasaan seringkali menjadi salah kaprah.

"Jadi misalnya gini, kamu suka makan dan kamu lapar. Pasti kalau berpikir cuma (pakai) perasaan kamu bakalan pergi makan, tapi ternyata waktu itu lagi bulan puasa otomatis yang berperan adalah pikiran kamu kan. Jadi faktor logika itu sangat mempengaruhi seseorang dalam bertindak," jelasnya memberikan contoh.

Meskipun ada dua faktor yang membuat seseorang melakukan pelecehan seksual. Ratih meyakini faktor eksternal lah yang berperan paling besar terhadap pelaku dalam melakukan tindakan kriminal ini.

"Sejauh ini sih faktor eksternal, karena faktor internal itu cenderung berubah seiring dengan bertambahnya usia. Walaupun pada saat dia sudah dewasa, individu itu kan berhak menentukan apa yang mau dia lakukan, tapi dalam proses pelatihan atau pembentukkan kemampuan-kemampuan yang bisa membuat dia mengambil keputusan kan dari faktor eksternal," pungkasnya.



Simak Video "Mengenal Lima Kejahatan Manipulasi Psikologis yang Terjadi Selama Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)