Jumat, 24 Jan 2020 13:54 WIB

Tangkal Virus Corona, Singapura Malah Lebih Anjurkan 'Masker Ojol'

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Warga memakai masker bedah alias 'masker ojol'. (Foto: AP Photo/Dake Kang)
Jakarta -

Masker N95 diketahui lebih ampuh menyaring partikel agar tak masuk pernapasan. Namun terkait pencegahan virus corona, Kementerian Kesehatan Singapura malah lebih menganjurkan masker 'ojol'.

Masker bedah, yang di Indonesia sangat populer kalangan ojek online sehingga disebut juga 'masker ojol', dinilai lebih praktis digunakan oleh masyarakat umum. Masker tersebut dinilai mampu menyaring partikel berukuran besar dan droplet (bercak dahak) agar tidak masuk pernapasan.

Masker N95 sebetulnya punya kemampuan yang lebih baik dalam menyaring partikel. Di Singapura, masker jenis ini digunakan ketika terjadi 'kabut asap', istilah populer untuk asap kebakaran hutan.

Namun kekurangannya, masker N95 sangat ketat dan membuat pemakainya susah bernapas ketika digunakan dengan benar.

"Jika kamu pakai N95 dan bisa bernapas dengan mudah dan nyaman, kamu memakainya salah dan tidak berguna. Kamu pikir terlindungi, padahal tidak," kata Leo Yee Sin dari National Centre for Infectious Diseases Kementerian Kesehatan Singapura, dikutip dari Straits Times.

Soal ketidaknyamanan menggunakan masker N95 juga disinggung ahli pernapasan dari RS Persahabatan, dr Diah, SpP. Menurutnya, masker N95 harus digunakan dengan benar agar efektif, yang artinya memang membuat pemakainya merasa kurang nyaman.

"Kalau nggak nyaman, malah buka pasang juga," katanya.

Menurut dr Diah, masker N95 lebih dibutuhkan pada kondisi 'high risk'. Artinya, dipakai dalam situasi memang ada kasus yang terkonfirmasi, berada di lingkungan dengan sirkulasi udara terbatas, atau berdekatan dengan pasien.

Tangkal Virus Corona, Singapura Malah Lebih Anjurkan 'Masker Ojol'


Simak Video "Kapan Waktu yang Baik untuk Gunakan Masker?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)