Kamis, 13 Feb 2020 09:50 WIB

Ramai Kasus Lucinta Luna, Dokter Jiwa: Psikotropika Beda dengan Narkotika

Firdaus Anwar - detikHealth
Lucinta Luna telah ditetapkan sebagai tersangka kasus narkoba oleh Polda Metro Jaya, Rabu (12/2/2020). Lucinta Luna diamankan polisi karena kasus penyalahgunaan obat. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Penangkapan artis Lucinta Luna mendapat sorotan publik. Lucinta Luna disebut-sebut tersandung kasus penyalahgunaan narkoba dengan hasil tes urine positif mengandung psikotropika dan polisi menemukan sejumlah riklona dan tramadol di tasnya.

Terkait hal tersebut ahli kesehatan jiwa dr Andri SpKJ, FAPM, dari Omni Hospitals Alam Sutera meminta agar kedua jenis obat tersebut tidak sembarangan dikategorikan sebagai narkoba. Hal ini berkaitan dengan masalah stigma yang bisa mempengaruhi pasien jiwa di Indonesia.

"Perbedaan antara narkotika dan psikotropika itu ada bisa kita cari di undang-undang. Jenisnya apa itu bisa dilihat," kata dr Andri pada detikcom, Kamis (13/2/2020).

Secara umum dr Andri menyebut narkotika adalah obat-obat yang biasanya digunakan untuk nyeri sementara psikotropika dipakai untuk obat penenang. Pada kasus Lucinta Luna, riklona termasuk dalam golongan psikotropika.

Menurut Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 10 Tahun 2019, tramadol masuk ke dalam golongan "Obat-Obat Tertentu". Artinya obat tersebut bukan narkotika atau psikotropika namun penggunaannya tetap diatur karena bekerja di sistem susunan saraf pusat dan dapat menyebabkan ketergantungan.

"Sering kali jadi masalah awam itu menggunakan istilah bahwa obat-obatan psikiatri, obat-obatan dokter jiwa, yang diberikan kepada pasien itu dianggap narkotika/narkoba," kata dr Andri.

"Ini yang salah karena kalau misalnya obat itu narkotika atau narkoba sudah pasti bukan cuma pasiennya yang ditangkap tapi dokternya juga karena disebut bandar narkoba dong," pungkasnya.



Simak Video "Dipakai Lucinta Luna, Bolehkah Tramadol dan Riklona Dikonsumsi?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)