Kamis, 27 Feb 2020 19:00 WIB

Perawat di Wuhan Terbitkan Surat Terbuka Minta Bantuan Perangi COVID-19

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Virus corona telah mewabah di China sejak Desember 2019 lalu. Hingga kini, tim medis terus berjuang untuk menangani pasien yang terjangkit virus corona. Perawat di Wuhan terbitkan surat terbuka soal bantuan perangi COVID-19. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Dua perawat di Wuhan terbitkan surat terbuka tentang permohonan agar petugas kesehatan dari seluruh dunia datang ke China untuk membantu memerangi virus corona COVID-19.

Dikutip dari The Guardian, surat terbuka ini dibuat oleh Yingchun Zeng dari Rumah Sakit Guangzhou Medical dan Yan Zhen dari Rumah Sakit Sun Yat-sen Memorial. Surat diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, pada hari Senin (24/2).

Zeng dan Zhen adalah dua dari 14.000 perawat di China yang ditugaskan ke Wuhan untuk menjadi sukarelawan.

"Kami membutuhkan lebih banyak bantuan. Kami meminta perawat dan staf medis dari seluruh negara di dunia untuk datang ke China sekarang membantu kami dalam pertempuran ini," kata Zeng dan Zhen.

"Kondisi dan lingkungan di sini di Wuhan lebih sulit dan ekstrim daripada yang bisa kita bayangkan," lanjut mereka.

Surat itu menggambarkan betapa mirisnya kondisi di Wuhan dan bagaimana petugas kesehatan kewalahan dalam menangani pasien COVID-19. Mereka pun mengaku sudah kekurangan berbagai peralatan pelindung seperti masker N95, kacamata dan baju pelindung, hingga sarung tangan.

Tak hanya itu, Zeng dan Zhen juga menceritakan bahwa banyak staf medis yang mengalami luka di bagian telinga dan dahi akibat mengenakan masker selama berjam-jam. Beberapa perawat pingsan karena hipoglikemia atau gula darah yang turun di bawah batas normal.

"Meskipun kami adalah perawat profesional, kami juga manusia. Seperti orang lain, kita merasakan ketidakberdayaan, kecemasan, dan ketakutan. Perawat berpengalaman kadang-kadang menyempatkan waktu untuk menghibur dan meredakan kecemasan kita," jelas mereka.

"Tetapi perawat yang berpengalaman pun mungkin akan menangis, karena kita tidak tahu berapa lama kita perlu tinggal di sini dan kita adalah kelompok yang berisiko tinggi untuk terinfeksi COVID-19," pungkasnya.



Simak Video "WHO Belum Bisa Prediksi Penyebaran COVID-19 ke Depannya"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)