Selasa, 10 Mar 2020 14:43 WIB

Kasus ABG Bunuh Bocah, Dokter Singgung Kerusakan Saraf Otak

Ayunda Septiani - detikHealth
Creepy girl 3d illustration Kerusakan saraf di otak disebut dapat membuat orang mudah emosi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/M-A-U)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu muncul kabar mengejutkan mengenai seorang remaja yang mengaku membunuh bocah berusia lima tahun di Jakarta Pusat. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, dari RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi, Bogor, mengatakan kekerasan adalah sebuah proses kompleks yang terjadi di otak. Ada beberapa penyebab perilaku kekerasan terjadi.

"Di dalam otak ada bagian top down dan bottom up yang berfungsi sebagai pembuat keputusan, kontrol diri dan pusat emosi. Kerusakan pada sirkuit saraf otak dapat menyebabkan kegagalan pada fungsinya mengontrol perilaku," katanya kepada detikcom.

Kerusakan pada sirkuit saraf di otak dapat menyebabkan terjadinya kegagalan pada dua area otak tersebut. Jika otak menjadi hiper responsif, ada pemicu sedikit saja bisa langsung memicu emosi.

"Ini semualah yg kemudian berujung pada terjadinya sebuah perilaku kekerasan/agresivitas," lanjut dr Lahargo.

Dijelaskan juga ada beberapa hal yang dapat menyebabkan sirkuit otak terganggu sehingga memunculkan perilaku kekerasan, di antaranya:

- Faktor genetik dalam keluarga dengan riwayat perilaku kekerasan

- Adanya tumor otak, trauma kepala

- Gangguan metabolik, penyakit fisik

- Pemakaian alkohol, narkoba

- Riwayat menjadi korban perlakuan kekerasan baik verbal, fisik, maupun seksual

- Menyaksikan perilaku kekerasan dalam kehidupan sehari hari di rumah atau lingkungan sekitar

- Menjadi korban bullying

- Paparan media mengenai kekerasan di film, games, tontonan youtube, TV, medsos, dan lain-lain

- Stresor psikososial dalam kehidupan sehari-hari



Simak Video "Ahli Jelaskan Ciri-ciri Kecenderungan Sifat Psikopat Pada Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)